Uncategorized

Macapatan dan Tahlilan Kristen ; Korelasi Budaya & Upaya Misionaris

“Agama & Budaya: Satu Keping Mata Uang Dua Muka” Ringkasan lengkap kajian Ustaz Menachem Ali & Edi PrayitnoChannel Edi Prahitno Menachem Ali Official & Graha Mualaf

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kajian kali ini melanjutkan seri “pendekatan budaya dalam dakwah”. Setelah sebelumnya membahas Al-Qur’an dan Alkitab dalam aksara Jawa (Hanacaraka & Pegon), kini fokus pada tembang Mocopat sebagai media dakwah dan bagaimana pola yang sama diadopsi oleh Katolik maupun Protestan di Indonesia.

1. Al-Qur’an dalam Tembang Mocopat (Sudah Ada Sejak 1992!)

Buku: Kidung Rahayu – Terjemahanipun Juz Amma dalam Sekar Mocopat Penulis: Ahmad Juahir Anom Wijoyo Penerbit: Masyarakat Puitika Indonesia & Universitas Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) Yogyakarta Cetakan pertama: Desember 1992 Kata pengantar: KH A. Fachruddin (tokoh Muhammadiyah)

Contoh tembang (dari Surah Al-Ikhlas):

Sayekti tanpā putrā lan ugā tanpā wĕlah Mĕsti yo iku suraosipun āyat kang ōngkā tiga Lan tan ono sajugā pĕpadanipun Iku jarwané kang āyat kā pā (Artinya: “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia”)

Ini bukan sekadar terjemahan, melainkan Al-Qur’an dirapikan dalam bentuk puisi Jawa tinggi (nyastra/krama inggil) dan bisa dinyanyikan dengan iringan gending.

2. Kristen Mengadopsi Pola yang Sama (Lebih Belakangan)

Judul BukuAgamaTahun TerbitPenerbit
Kidung Rahayu – Juz Amma MocopatIslam (Muhammadiyah)1992Univ. Ahmad Dahlan
Injil Papat Piulang Sang Guru Sejati ing Tembang MocopatKatolik2008Kanisius Yogyakarta
Sekar Mocopat Injil Matius (pasal 1–10)Protestan (Taman Pustaka Kristen)2011Taman Pustaka Kristen

Kesimpulan Ustaz Menachem Ali:

“Yang lebih dulu adalah Islam (1992). Yang kemudian meniru dan mengadopsi adalah Katolik (2008) dan Protestan (2011). Bukan sebaliknya.”

3. Selamatan, Kenduri, Tahlilan = Budaya, Bukan Ibadah Wajib

Ustaz Menachem Ali menegaskan:

  • Kenduri / selamatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari bukan ibadah resmi Islam, melainkan tradisi Jawa yang diisi dengan doa-doa Islam (Wali Songo dulu memakainya untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat Hindu-Buddha).
  • Buku resmi Gereja Katolik Indonesia: “Ibadat dalam Kenduri” (terbit Yogyakarta) Menyatakan: “Kenduri bukan ibadat, sehingga boleh dimanfaatkan sebagai sarana pewartaan Injil.”
  • Buku Katolik lain: “Mendoakan Arwah dari 3 Hari sampai 1000 Hari” (ada pitung dinten, 40 dinten, 100 dinten, pendhak tahun, dll).
  • Protestan (GKJ, GKJW, dll) juga mengadakan kebaktian 3, 7, 40 hari.

Artinya: Pola selamatan 3–7–40–100–1000 hari yang selama ini dianggap “khusus NU” ternyata sudah diadopsi penuh oleh Kristen Jawa (terutama Katolik).

Ustaz Menachem Ali berkata dengan tegas:

“NU itu ibarat ‘Muslim Katolik’ — sangat luas menerima budaya. Katolik Jawa itu ibarat ‘Kristen NU’ — sangat luas menerima tradisi lokal. Muhammadiyah ibarat ‘Kristen Protestan’ — lebih kaku soal budaya. Protestan ibarat ‘Kristen Muhammadiyah’ — lebih puritan.”

4. Sunatullah dalam Bahasa & Budaya Agama

Ustaz Menachem Ali memberikan analisis sejarah yang sangat menarik:

AgamaBahasa Suci AwalStatusPembaharuBahasa yang Dinaikkan KelasBahasa yang Diturunkan Kelas
Hindu IndiaSansekerta (elit Brahmana)Kelas tinggiSiddhartha Gautama (Buddha)Pali / Prakrit (bahasa rakyat)Sansekerta turun
YahudiIbrani (elit Rabi)Kelas tinggiIsa Al-MasihSuryani / Aram (bahasa rakyat)Ibrani turun
Kristen AwalSuryaniKelas tinggiNabi Muhammad SAWArab (bahasa Badui “rendah”)Suryani turun
IslamArabKelas tinggi???

“Setiap kali ada pembaharu datang, bahasa elit diturunkan derajatnya, bahasa rakyat dinaikkan menjadi bahasa suci. Ini sunatullah.”

5. Budaya Lebih Kuat daripada Agama

Kesimpulan keras Ustaz Menachem Ali:

  • Mengubah agama → sangat mudah (banyak contoh mualaf dan sebaliknya)
  • Mengubah budaya → hampir mustahil Contoh: orang Jawa masuk gereja tetap pakai peci + sarung, orang Arab di Jawa tetap pakai gamis + sorban.

“Orang lebih rela pindah agama daripada pindah budaya. Makanya semua penyebar agama yang sukses selalu masuk lewat budaya, bukan melawan budaya.”

6. Peringatan Keras untuk Umat Islam Indonesia

  • Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sudah menerjemahkan Alkitab ke dalam puluhan bahasa daerah Indonesia (Aceh, Minang, Madura, Bugis, Dayak, Toraja, Papua, dll). Kementerian Agama RI sampai sekarang hanya punya terjemahan Al-Qur’an daerah yang sangat terbatas.

Saudi Arabia saja sudah menerjemahkan Al-Qur’an ke bahasa Mandar (Sulawesi Barat) dan bahasa Mandarin, sementara kita masih alergi dengan aksara Jawa, tembang Mocopat, selamatan, dll.

“Umat Islam Indonesia sekarang sangat lemah dalam pendekatan budaya. Kita ketinggalan kereta lagi. Kalau tidak segera bangkit, yang meniru kita akan terus bertambah, sementara kita hanya jadi penonton.”

Pesan Penutup Ustaz Menachem Ali

  1. Agama dan budaya itu satu keping mata uang dua muka — tidak bisa dipisah, tapi harus dibedakan mana doktrin, mana kemasan.
  2. Strategi Wali Songo (masuk budaya, bukan membabat budaya) adalah strategi paling sukses dalam sejarah dakwah dunia)** — dan sampai sekarang masih ditiru oleh pihak lain.
  3. Jangan malu dengan tradisi lokal — tembang Mocopat, selamatan, kenduri, aksara Jawa, sarung, peci, batik — semua itu adalah “baju” Islam Nusantara yang sangat ampuh.
  4. Bangun kembali kesadaran budaya Islam Indonesia sebelum orang lain yang mengambil alih narasinya.

“Jangan persempit pikiran kita. Kalau pikiran dipersempit, Islam jadi sempit. Padahal Islam itu rahmatan lil ‘ālamīn.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kajian ini membuka mata dan hati kita semua. Jangan lupa dukung pembangunan masjid & pondok Graha Mualaf Wonosalam Jombang Rekening: BSI 1118889971 a.n. Yayasan Pembina Mualaf Attauhid Jawa Timur.

Silahkan bagikan di :