Kenapa kota Yerussalem terus diperebutkan dan menjadi sumber konflik?
Pembawa Acara (Hedi Pritno):
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berjumpa lagi di channel kita, Hedi Pritno bersama Menahem Ali Official dan Gerakan Mualaf. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian untuk membahas isu-isu viral yang menarik. Malam ini, kita bersama Mas Dedi. Assalamualaikum, Mas.
Mas Dedi:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Pembawa Acara:
Dan juga bersama Ustadz Menahem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.
Ustadz Menahem Ali:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Pembawa Acara:
Malam ini, kita melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang Palestina dan Israel, dengan fokus pada kota Yerusalem. Seperti kita ketahui, Yerusalem adalah pusat peradaban tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam. Kenapa kota ini terus diperebutkan dan menjadi sumber konflik? Bahkan, Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang Yerusalem. Ustadz Ali, bagaimana pandangan Anda tentang kota ini?
Ustadz Menahem Ali:
Kita akan membedah identitas kota Yerusalem, yang berkaitan erat dengan konflik Palestina-Israel. Konflik ini bukan sekali-dua kali terjadi, melainkan berulang, menghabiskan energi, dana, bahkan nyawa. Untuk memahami potret sebenarnya, kita harus merujuk data historis dan teks agama.
Nama “Yerusalem” dalam bahasa Ibrani disebut Yerushalaim, yang berarti “tempat penuh damai” atau “rumah sejahtera.” Istilah ini mirip dengan istilah Arab Darussalam, dari kata dar (rumah) dan salam (damai). Jadi, Darussalam berarti rumah penuh damai sejahtera. Nama ini sangat positif, menunjukkan bahwa Yerusalem dirancang sebagai wilayah damai. Apakah ini grand design dari Allah? Saya yakin, berdasarkan dokumen-dokumen, bahwa ini adalah rancangan Tuhan yang diyakini tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam.
Dalam tradisi Yahudi, kota ini dibangun megah oleh Nabi Sulaiman, yang disebut Shlomo (raja penuh damai). Jadi, nama tokohnya (Shlomo) dan nama kotanya (Yerushalaim) keduanya bermakna damai. Dalam Islam, kita kenal Masjidil Aqsa di Yerusalem dan Masjidil Haram di Makkah. Al-Qur’an menyebut Makkah sebagai baladil amin (negeri yang aman) dalam Surah At-Tin (95:3). Ini menunjukkan grand design Tuhan: Yerusalem sebagai kota damai di bumi, dan Makkah sebagai negeri aman.
Pembawa Acara:
Jadi, ada kesinambungan antara konsep damai ini?
Ustadz Menahem Ali:
Betul. Dalam Al-Qur’an, Surah Al-An’am (6:127) menyebut Darussalam sebagai surga bagi orang-orang saleh. Dalam Surah Al-Anbiya (21:105), disebutkan bahwa bumi akan diwarisi oleh orang-orang saleh, sesuai dengan apa yang tertulis dalam Zabur (Mazmur). Dalam Mazmur 37:29, teks Ibrani menyebut tsadikim yirshu eretz—orang-orang benar akan mewarisi bumi. Istilah eretz (bumi) ini sejalan dengan al-ard dalam Al-Qur’an. Jadi, baik Al-Qur’an maupun Zabur menegaskan bahwa bumi, termasuk Yerusalem, diwarisi oleh orang-orang saleh, yang membawa damai sesuai syariat masing-masing agama.
Saya yakin ini grand design Tuhan. Istilah Darussalam juga muncul dalam kitab Yahudi, bukan hanya surga, tapi juga di bumi. Yesus Kristus (Nabi Isa) dalam Matius 6:9-10 berkata, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Dalam bahasa Ibrani, avinu shebashamayim (Bapa kami di surga) menegaskan bahwa apa yang ada di surga, seperti damai, harus tercermin di bumi, termasuk di Yerusalem.
Dalam Kejadian 14:18, disebutkan Melkisedek, Raja Salem, yang bertemu Nabi Ibrahim. Salem adalah Darussalam atau Yerusalem. Melkisedek bukan nama, melainkan gelar untuk Syem bin Nuh, anak Nabi Nuh, nenek moyang Bani Israil dan Bani Ismail. Jadi, Yerusalem adalah warisan bersama, bukan milik satu kelompok.
Mas Dedi:
Jadi, seperti pengaskenasian sejarah? Seperti di Indonesia, misalnya, nama Maulana Malik Ibrahim di Gresik ditenggelamkan, digantikan tokoh lain?
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Syem bin Nuh, peletak dasar Yerusalem, namanya tenggelam. Yang dimunculkan adalah Nabi Daud dan Sulaiman, padahal mereka hanya penerus. Dalam Alkitab Ibrani, Melkisedek disebut Malik Darussalam (Raja Yerusalem). Ini menunjukkan bahwa Yerusalem adalah warisan bersama, bukan milik Yahudi Askenazi, yang bukan keturunan 12 suku Bani Israil, melainkan dari Yafet (keturunan Askenas). Mereka imigran dari Eropa, bukan pribumi Palestina seperti Yahudi Mizrahi, Arab Muslim, atau Arab Kristen.
Pembawa Acara:
Jadi, klaim Israel atas Yerusalem salah?
Ustadz Menahem Ali:
Ya, ada dua klaim salah. Pertama, mereka mengklaim Yerusalem sebagai milik eksklusif Israel berdasarkan sejarah Nabi Daud dan Sulaiman, padahal pendiri awalnya adalah Syem bin Nuh. Kedua, Yahudi Askenazi bukan keturunan Nabi Yakub (Bani Israil), melainkan Yafet, tapi mengklaim sebagai Bani Israil. Palestina dulu harmoni—Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup damai di bawah Turki Utsmani. Konflik muncul saat imigran Askenazi datang dan menguasai, menggeser pribumi.
Mas Dedi:
Ini mirip di Gresik. Maulana Malik Ibrahim seharusnya dihargai sebagai peletak dasar, tapi namanya tenggelam, digantikan tokoh lain. Seperti Indonesia, kita kira Soekarno yang mencetuskan istilah “Indonesia,” padahal istilah itu pertama kali digunakan oleh ahli etnografi Jerman. Soekarno mempopulerkan Bhinneka Tunggal Ika dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, yang berbunyi, “Mangkang jinatwa kalawan siwatatwa bhinneka tunggal ika…”—berbeda-beda tetapi satu, tidak ada dharma yang mendua.
Ustadz Menahem Ali:
Benar. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila berakar dari literasi kuno, tapi dimunculkan seolah-olah baru. Begitu pula Yerusalem. Nabi Isa meramalkan kehancuran Baitullah (Matius 24:1-2), yang terjadi pada tahun 70 M oleh Kaisar Titus, menyisakan Tembok Ratapan. Khalifah Umar bin Khattab membersihkan puing dan membangun masjid sederhana, lalu pada masa Bani Umayyah dibangun Dome of the Rock dan Masjidil Aqsa. Batu pijakan di Dome of the Rock terkait Isra Mikraj Nabi Muhammad, menunjukkan kesinambungan dengan batu pijakan Nabi Ibrahim di Makkah.
Pembawa Acara:
Jadi, Yerusalem bukan milik Askenazi, tapi warisan bersama?
Ustadz Menahem Ali:
Tepat. Yerusalem adalah milik pribumi—Yahudi Palestina, Muslim Palestina, Kristen Palestina. Konflik muncul karena Yahudi Askenazi menguasai secara eksklusif, bahkan mengambil keuntungan dari kunjungan keagamaan (haji Yahudi tiga kali setahun, aliyah). Ini bukan konflik agama, tapi politik budaya. Mereka mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel, padahal PBB menetapkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.
Mas Dedi:
Sebagai Muslim, kita diajarkan Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta). Kita harus membawa pesan damai, seperti konsep Darussalam. Hak pribumi harus dikelola bersama, apapun agamanya.
Pembawa Acara:
Terima kasih, Ustadz Ali dan Mas Dedi. Untuk proyek pembangunan masjid dan pesantren di Wonosalam, Jombang, kami telah menyelesaikan tempat wudu dengan septic tank dan keramik. Air sudah mengalir dari sumber sejauh 200 meter. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Syariah Indonesia: 1118889971. Semoga Allah melipatgandakan pahala donatur.
Ustadz Menahem Ali (Penutup):
Dua catatan:
- Yerusalem adalah prototipe Darussalam di surga, wilayah penuh damai, sesuai Al-Qur’an dan Targum Rav Saadiah Gaon.
- Yerusalem adalah milik pribumi—Yahudi, Kristen, dan Muslim Palestina—bukan Yahudi Askenazi, yang bukan keturunan Bani Israil tapi mengklaim sebagai bagiannya. Semoga konflik segera selesai.
Mas Dedi:
Kita harus menjaga hak pribumi dan mengelola Yerusalem bersama demi damai.
Pembawa Acara:
Terima kasih atas diskusinya. Sampai jumpa di kajian malam Jumat berikutnya. Mohon maaf jika ada salah kata. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
link ; https://youtu.be/cwCqi_Ufnhc?si=Cip3a9Uaqj-IbGqI

