Sejarah

Apakah keturunan Ismail Tidak ada yang jadi Nabi?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kita bertemu lagi di channel kita Graha Mualaf. Setiap malam Jumat, kita selalu mengadakan kajian, dan malam ini, kita hadirkan Ustaz Manager Ali. Selamat malam, Ustaz, dan Alhamdulillah, setelah kembali dari mudik, kita langsung beraktivitas lagi. Saya juga ingin mengucapkan Minal aidin wal faizin, semoga amal ibadah kita selama Ramadan penuh hikmah dan kita semakin bersyukur.

Pada malam ini, kita akan membahas tuduhan dari Saifudin Ibrahim, yang saat ini berada di Amerika Serikat. Dia menuduh bahwa tidak ada nabi dari Bani Ismail dan bahwa semua nabi berasal dari Israel, kecuali Nabi Muhammad. Ini adalah pandangan yang menarik karena banyak orang, termasuk beberapa Muslim, juga mempertanyakan apakah ada nabi setelah Nabi Ismail sebelum Nabi Muhammad. Hal ini sering menjadi perdebatan dalam diskusi lintas agama dan menjadi topik yang dibahas di mana-mana.

Saifudin Ibrahim mewakili suara kaum Kristiani yang berpendapat bahwa nabi-nabi hanya diutus di kalangan Bani Israel, sementara Bani Ismail tidak memiliki nabi yang diutus oleh Tuhan. Pernyataan ini perlu dikritisi karena tidak ada bukti jelas untuk mendukung klaim tersebut. Oleh karena itu, kita perlu meneliti dan mengkaji pernyataan ini secara mendalam.

Untuk itu, kita akan mulai dari Alquran sebagai dokumen utama sebelum membahas sumber-sumber lain. Alquran menyatakan bahwa setiap ummat diutus seorang nabi, yang jelas menunjukkan bahwa setiap bangsa pasti memiliki nabi yang diutus oleh Tuhan. Istilah yang digunakan mungkin berbeda-beda, misalnya dalam bahasa Arab, nabi berarti “Rasul” dan dalam bahasa Ibrani, istilah untuk nabi adalah “Nevi. ” Dalam bahasa Sansekerta, istilah yang digunakan adalah “Avatar,” yang membawa makna serupa dengan konsep kenabian.

Dalam tradisi Timur Tengah, nabi-nabi disebut sebagai utusan Tuhan, dan contoh yang terkenal adalah Nabi Musa, yang dalam bahasa Arab disebut Rasullulah, artinya rasul Allah. Di sisi lain, dalam tradisi India, konsep kenabian diungkapkan melalui istilah Avatar, yang berarti penjelmaan Tuhan yang datang ke bumi. Dalam kitab srimat Bhagawadgita, dikatakan bahwa jika kebenaran mulai menurun dan kejahatan meningkat, Tuhan akan turun untuk menunaikan misinya. Ini menunjukkan bahwa konsep adanya utusan atau nabi dapat ditemukan di berbagai budaya dan agama.

Dengan demikian, kita perlu mendalami dan memahami pernyataan Saifudin Ibrahim serta pandangan yang ada mengenai kenabian dengan cara yang berpikiran terbuka dan berdasarkan pada dokumen yang ada. Sebenarnya untuk melindungi para sadusadunam dan menegakkan kebenaran, aku datang dari masa ke masa sebagai Tuhan dalam tradisi Hindu. Ini disebut sebagai Avatar, dan salah satu contohnya adalah Sri Krisna, kemudian Sri Rama, dan lainnya. Konsep kenabian atau utusan berlaku untuk semua bangsa dan agama. Dalam kitab agama Khonghucu terdapat nabi yang disebut Nabi Khan. Ini menunjukkan bahwa nabi tidak hanya eksklusif kepada Bani Israel tetapi juga mencakup Bani Ismail dan bangsa lainnya, termasuk di Indonesia yang mungkin pernah memiliki nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Setiap bangsa memiliki tradisi keagamaan, dan pasti ada nabi yang diutus kepada mereka. Manusia memiliki fitrah untuk mencari Tuhan, dan setiap orang memiliki hubungan dengan ajaran mengenai ketuhanan melalui kenabian. Pertanyaan yang muncul adalah apakah benar bahwa dari keturunan Ismail tidak ada nabi yang diutus oleh Tuhan. Untuk menjawab ini, kita harus merujuk pada Alquran, khususnya dalam surah Al-Baqarah.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 127, diceritakan bahwa Ibrahim dan putranya, Ismail, berdoa kepada Tuhan. Dalam ayat 128, Ibrahim meminta Tuhan untuk menjadikan mereka umat yang berserah diri. Sedangkan di ayat 129, Ibrahim berharap agar di antara mereka muncul seorang rasul yang akan membacakan ayat-ayat Tuhan dan mengajarkan kitab kepada mereka. Ini merupakan permohonan yang sangat khusus dari Ibrahim kepada Tuhan.

The dua ayat ini saling terkait, menjelaskan bahwa Tuhan diminta untuk menjadikan mereka, yakni Ibrahim dan Ismail, sebagai umat yang berserah diri dan supaya muncul nabi di kalangan mereka. Dengan demikian, dari konteks ini, dapat dipahami bahwa ada harapan dan keyakinan akan munculnya nabi dari kalangan Bani Ismail. Ini adalah doa yang sangat signifikan yang diajukan Ibrahim.

Ibrahim bersama putranya Ismail memohon kepada Tuhan agar menjadikan mereka berdua sebagai umat yang berserah diri. Ini berarti bahwa keturunan Ismail dari Ibrahim akan menjadi sebuah umat besar. Dalam doa Ibrahim, juga terdapat permohonan untuk mengutus seorang nabi dari keturunan Ismail, meskipun jumlahnya tidak dijelaskan dalam Alquran. Tradisi Islam menyatakan bahwa nabi terakhir, Muhammad, adalah keturunan Ismail.

Bukti ini juga terdapat dalam teks Alkitab berbahasa Ibrani. Dalam kitab Kejadian, pasal 25 ayat 13-18, disebutkan nama-nama anak-anak Ismail sesuai urutan lahir, termasuk Nebayot dan Kedar. Ayat ini menjelaskan tempat tinggal mereka yang berada di daerah dari Hawila hingga Sure, di sebelah timur Mesir. Membaca kitab ini, orang Kristen dari berbagai aliran bisa memastikan bahwa informasi ini ada.

Kitab tradisi Yahudi juga memuat rincian nama-nama keturunan Ismail. Nama-nama tersebut menunjukkan urutan kelahiran anak-anak Ismail. Nama Masha muncul di antara nama-nama tersebut, yang secara harfiah berarti ucapan atau hikmah ilahi, mencerminkan makna positif yang terkait dengan nubuatan.

Suku yang berasal dari Masha berpotensi memiliki nabi-nabi. Dalam kitab Amsal, pasal 30 ayat 1, terdapat pernyataan dari seorang bernama Agur bin Yake, yang merujuk kepada keturunan Masha. Ini menunjukkan koneksi nasab antara Masha dan Ismail. Pertanyaan yang muncul adalah apakah Agur bin Yake ini hanya orang biasa atau dia diamanahi Tuhan untuk menyampaikan pesan ilahi, yang mana dipercayai bahwa dia menuliskan perkataan yang berasal dari Tuhan.

Dalam keseluruhan teks, ada penegasan mengenai pentingnya keturunan Ismail yang berasal dari Ibrahim dan pengakuan bahwa mereka dapat menjadi satu umat yang besar. Umat ini akan terus berlanjut dalam tradisi dan impact-nya dalam sejarah keagamaan. Ini menghubungkan semua tradisi bersangkutan, baik dalam Islam, Kristen, dan Yahudi, menggarisbawahi signifikansi dari anak-anak Ismail dalam konteks kenabian dan wahyu ilahi.

Mungkin di situ sebenarnya adalah ucapan Ilahi dari Anggur bin Yakin. Ini terkait dengan keturunan Masha dan ucapannya diabadikan dalam Kitab Amsal. Sulaiman, yang merupakan anak Nabi Daud, memiliki status yang penting dalam kedua tradisi, Islam dan Kristen. Dalam kitab Perjanjian Baru, ini diperjelas dalam Kisah Para Rasul pasal 2 ayat 30, yang menyatakan bahwa Daud adalah seorang nabi. Jika ada yang mengatakan bahwa Daud bukan nabi, itu menunjukkan kurangnya pemahaman mereka terhadap kitab suci.

Ketika Sulaiman mengabadikan ucapan Agur bin Yakin, ini menunjukkan bahwa Amsal Sulaiman adalah ucapan Ilahi dan bukan sekadar ucapan biasa. Amsal sendiri adalah bagian dari pewahyuan Kitab Perjanjian Lama. Ucapan Lemuel, yang merupakan raja dari keturunan Masha, juga adalah ucapan Ilahi yang diabadikan di Amsal. Keduanya memiliki peran penting sebagai juru penerang kebenaran dan diakui dalam Kitab Suci.

Anggur bin Yakin dan Lemuel bukan orang sembarangan; mereka adalah orang-orang yang menerima wahyu. Dalam Alquran, terdapat 124. 000 nabi, tetapi hanya 25 yang disebutkan. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya nabi dari keturunan Ishak yang mendapatkan wahyu, tetapi juga dari keturunan Ismail. Ismail memiliki anak 12, yang semuanya adalah raja, termasuk salah satunya adalah raja Masha. Ini menunjukkan bahwa banyak raja dan nabi muncul dari keturunan Ismail.

Alkitab memberikan kesaksian mengenai orang-orang seperti Lemuel dan Agur, yang merupakan orang pilihan dan menerima wahyu. Ketika seseorang mendapatkan ucapan Ilahi, mereka bisa disebut sebagai nabi. Ucapan-ucapan tersebut diabadikan di dalam Kitab Amsal oleh Nabi Sulaiman dan diakui dalam tradisi Yahudi dan Kristen sebagai bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Ini memperjelas bahwa nabi-nabi bukan hanya dari keturunan Bani Israel, tetapi juga dari keturunan lainnya.

Jadi mau tidak diakui atau diakui sekalipun tetap posisinya adalah seorang yang mulia. Jika kita lihat angka 12, ini sangat istimewa. Dari kalangan Isra El ada 12 suku, dari kalangan Arab ada 12 suku bangsa, dan ada 12 raja. Nabi Yesus juga mempunyai 12 orang murid. Angka 12 ini menjadi simbol yang penting, menunjukkan ciri dari bangsa-bangsa. Ada yang pernah cerita tentang simbol-simbol ini, nanti kita bahas lebih lanjut. Kita fokus di sini mengenai keturunan Ismail. Dari keturunan inilah ada orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan wahyu-Nya.

Ada informasi menarik dalam tafsir Rabi Yahudi, salah satunya dari GPS Tora commentary Genesis, yang ditulis oleh Nahum M. Sarna. Ini bukan terbitan Kristen, melainkan terbitan Yahudi dari tahun 1989. Dalam pembahasan tentang nama-nama anak Ismail, ada koneksi dengan kitab Kejadian pasal 10 ayat 30 dan pasal 25 ayat 13 hingga 18. Di pasal 10 ayat 30, disebutkan wilayah kediaman yang terbentang dari Mesa ke arah Safar. Di tafsir ini, kawasan Messa dijelaskan bisa jadi merujuk pada Masha dalam pasal 25. Ada kesamaan huruf di antara nama-nama tersebut, menunjukkan bahwa ini mengacu pada nama keturunan Ismail yang sangat sentral.

Rebai saat dia gaun menjelaskan tentang pasal 10 ayat 30, yang menyebutkan daerah kediaman mereka. Dalam teks Ibrani, disebutkan bahwa mereka mendiami kawasan dari Messa menuju kawasan pegunungan di wilayah timur. Menurut penjelasan Rebai saat dia gaun, istilah Masha dipahami sama dengan Makkah, yang merujuk pada kawasan keturunan Ismail. Ini menjadi menarik karena ada hubungan antara Messa dan Masha, yang merupakan nama dari salah satu keturunan Ismail.

Jadi, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim bertemu dengan Ismail dan meletakkan batu Ka’bah. Dulu ada yang mengatakan bahwa saat itu Arab masih adalah padang pasir, dan tidak ada orang di sana. Ini menunjukkan betapa signifikan dan uniknya informasi ini, dan mengungkapkan satu rahasia tentang sejarah keturunan Ismail.

Padahal di sini sudah dijelaskan bahwa keturunan di masa itu sudah tinggal di Arab, sampai ke Madinah. Ada yang mengatakan bahwa bukan Alquran yang digunakan, melainkan kitab orang Yahudi yang ditulis atau ditafsirkan oleh para nabi. Jadi, tidak mungkin dikatakan bahwa di Arab Saudi pada waktu itu belum ada orang. Sudah ada seorang raja besar yang turun. Semua dokumen tradisi Yahudi ini menunjukkan bahwa ada daerah yang disebut oleh Herba sebagai Makkah. Dalam bahasa Ibrani, daerah yang dihuni oleh kaum tersebut adalah keturunan Ismail, yang berarti 12 keturunan Ismail sudah menyebar hingga ke kota Makkah.

Orang yang mengatakan bahwa tidak ada manusia di Mekah saat itu adalah tuduhan yang terbantahkan oleh kitab ini. Bukti sejarah yang didapat tidak hanya berasal dari teologi, tetapi juga dari arkeologi. Ada nabi-nabi dari bangsa Israel yang berasal dari keturunan Ismail, dan mereka sudah menyebar ke Arab Saudi hingga Madinah. Jika ingin mempelajari kitab Perjanjian Lama, harus melalui sumber yang otentik, yaitu kaum Yahudi yang memiliki kitab tersebut. Jika ada yang mengklaim bahwa tulisan para rabi Yahudi tidak benar, hal itu tidak bisa diterima karena kitab Perjanjian Lama adalah kitab orang Yahudi.

Kaum Kristiani mengklaim bahwa kitab Perjanjian Lama merupakan bagian dari Alkitab dan juga bagian dari Perjanjian Baru. Seharusnya, semua harus merujuk pada tradisi awal. Hubungan antara orang Yahudi dan Muslim diibaratkan seperti anak sulung dan anak bungsu, sementara orang Kristen adalah anak kedua. Kitab yang mereka miliki seharusnya merujuk kepada tradisi yang pertama. Penafsiran tradisi Yahudi dan Islam masih mempertahankan keaslian teks. Tidak seorang pun bisa menolak bahwa kitab Yahudi yang ada sekarang adalah karya dari tradisi Yahudi yang diakui.

Bukti yang disampaikan oleh tradisi Yahudi harus diterima apa adanya, meskipun mereka tidak mau menjadi Muslim. Ini adalah pilihan iman. Kawasan Meisya memang dihuni oleh keturunan Ismail, dan kota Makkah menjadi bagian dari sejarah tersebut. Dalam kitab Amsal, ada dua keturunan yang masih dianggap nabi. Ini menunjukkan bahwa meskipun belum membahas Nabi Muhammad, keturunan Ismail dan dua orang dari 12 raja-raja sudah memiliki sejarah yang besar. Tuduhan terhadap mereka pun tidak dapat dianggap remeh. Meskipun beberapa orang tidak percaya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, mereka secara tidak langsung mengakui keturunannya dengan menyebutnya sebagai Nabi Bani Qadar, yang menunjukkan hubungan dengan Ismail. Saifudin yang menyebutnya menolak kenabian Nabi Muhammad, tetapi tetap mengakui bahwa dia adalah nabi. Jika ditanya kepada Pak Edi, apakah bangga disebut sebagai Nabi Bani Qadar, jawabannya mungkin ya, mengingat hubungannya dengan Ismail.

Dalam pembacaan kitab, tidak ada kisah Bani Keder yang menyerang Bani Israel. Malah, terjadi konflik antara suku-suku Israel sendiri. Misalnya, antara kerajaan Israel Utara dan Selatan, di mana terjadi pertumpahan darah di antara keturunan Yakub, termasuk penyingkiran suku Benyamin yang berkaitan dengan Yusuf.

Dijelaskan bahwa keturunan Ismail, termasuk yang tinggal di daerah Arab, juga melahirkan nabi-nabi dari salah satu putra Ismail. Penjelasan ini menjawab tuduhan bahwa hanya keturunan Israel yang diakui sebagai nabi.

Ada informasi bahwa saat Nabi Ibrahim bertemu Ismail di Arab Saudi, daerah itu ternyata sudah dihuni suku-suku yang merupakan keturunan Nabi Ismail. Kawasan Mekah dikenal dalam tradisi Yahudi dan bukan sekadar tempat sakral, tetapi juga sebagai tempat tinggal keturunan Ismail. Kedua kitab yang dibawa menunjukkan bahwa keturunan Ismail mendapat kehormatan dari Tuhan untuk mengemban amanah ilahiah. Terima kasih.

Saudara-saudaraku, pembangunan pondok pesantren di Jombang yang sedang berlangsung. Alhamdulillah, dana dari donatur sudah mulai masuk dan pembangunan masjid telah dimulai. Masjid ini sangat dibutuhkan karena masyarakat sekitar harus turun ke bawah untuk salat. Kami berterima kasih kepada para donatur dan meminta dukungan berkelanjutan

Kami juga telah membebaskan satu hektar tanah, namun masih ada dua hektar yang perlu dibebaskan agar pembangunan masjid dan pondok pesantren bisa selesai. untuk menyelesaikan pembangunan yang masih membutuhkan dana sekitar 300 juta. Jika ada yang mau berinfak, bisa kirim ke rekening

Silahkan anda bisa kirim ke rekening:

Bank SYARIAH INDONESIA 

► Kode bank: (451) No Rek: 111-888-9971 

► an. YPM At Tauhid Jawa Timur ,

► Bukti transfer dapat dikonfirmasikan ke :

HP/WA +6281235871100 (24 Jam)

Silahkan bagikan di :