Kajian Akademis: Tuduhan Tahrif dalam Kitab Suci – Antara Al-Qur’an dan Taurat
Dalam kajian keagamaan yang sering menjadi perdebatan hangat, isu tentang integritas kitab suci menjadi topik krusial. Baru-baru ini, dalam sebuah sesi diskusi malam Jumat yang disiarkan melalui channel Edi PrayitnoMenachem Ali Official dan Graha Mualaf, Ustaz Menachem Ali bersama Edi Prayitnomembahas tuduhan bahwa Al-Qur’an hanyalah “fiksi” atau “hoax” karena menuduh orang-orang Yahudi mengubah ayat-ayat dalam kitab suci mereka, seperti Taurat. Kajian ini melanjutkan diskusi sebelumnya, menyoroti Surah An-Nisa ayat 46, dan membandingkannya dengan variasi bacaan dalam Al-Qur’an sendiri. Kajian ini menekankan pendekatan akademis, bukan untuk menjelekkan agama lain, melainkan untuk memvalidasi fakta melalui dokumen historis.
Artikel ini merangkum kajian tersebut secara sistematis, dengan menyertakan teks asli dari Al-Qur’an dalam bahasa Arab, serta istilah Ibrani dari Taurat dan Alkitab untuk keakuratan. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam, didukung oleh bukti tekstual dan historis.
Tuduhan Tahrif dalam Al-Qur’an terhadap Kitab Yahudi
Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa sebagian orang Yahudi mengubah firman Tuhan dari tempatnya. Hal ini tercantum dalam Surah An-Nisa (surah ke-4) ayat 46:
Teks Arab (dari Mushaf Standar):
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا
Terjemahan Ringkas:
“Di antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar, tetapi kami durhaka,’ dan ‘Dengarlah,’ padahal (seolah) tidak mendengar, dan ‘Ra’ina’ dengan memutar lidah mereka dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami taati,’ dan ‘Dengarlah,’ dan ‘Unzurna,’ tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih lurus, tetapi Allah melaknat mereka karena kekafiran mereka; mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali.”
Ustaz Menachem Ali menekankan bahwa frasa “min alladhina hadu” (مِنَ الَّذِينَ هَادُوا) berarti “sebagian dari orang-orang Yahudi,” bukan seluruhnya. Kata “yuharrifuna al-kalim ‘an mawadi’ihi” (يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ) menunjukkan adanya penggantian atau distorsi firman dari asalnya. Pertanyaan krusial: Apakah ini fakta yang dapat divalidasi, atau hanya tuduhan tanpa bukti? Jika terbukti, maka Al-Qur’an akurat; jika tidak, maka iman terhadapnya bisa terguncang.
Variasi Bacaan dalam Al-Qur’an: Dialek, Bukan Tahrif
Tuduhan balik menyatakan bahwa Al-Qur’an sendiri mengalami “tahrif” karena adanya perbedaan bacaan (qira’at) antar-mushaf. Ustaz Ali membantah ini dengan menjelaskan bahwa perbedaan tersebut hanyalah variasi dialek bahasa Arab saat Al-Qur’an diturunkan, bukan perubahan makna substansial.
Contoh utama dari Surah Al-Baqarah (surah ke-2) ayat 259:
Teks Arab (Versi Qira’at Hafs, Umum di Indonesia):
أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ ۖ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Fokus Variasi: “كَيْفَ نُنْشِزُهَا” (kayfa nunshizuha) – Artinya: “Bagaimana Kami menyusunnya kembali” (tulang-tulang keledai).
Versi Qira’at Warsh (Umum di Maroko, dari Mushaf Ubayy bin Ka’b):
كَيْفَ نُنْشِرُهَا (kayfa nunshiruna) – Artinya sama: “Bagaimana Kami menyusunnya kembali.”
Perbedaan huruf: Zain (ز) vs. Ra (ر) – Bentuk huruf mirip, hanya beda titik (ز vs. ر). Ini adalah dialek, seperti “yu’minuna” vs. “yuminuna” dalam ayat lain. Makna tetap sama: Tuhan menyusun tulang dan membungkusnya dengan daging, merujuk pada kisah Uzair (Ezra) dan keledainya.
Ustaz Ali menegaskan: Ini bukan tahrif karena objek, tindakan, dan arti identik. Al-Qur’an diturunkan dalam berbagai dialek suku Arab, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: “Inna nahnu nazzalna al-dhikra wa inna lahu lahafizhun” (إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ) – “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula yang menjaganya” (Surah Al-Hijr 15:9).
Selain itu, angka penanda ayat dan halaman (seperti angka Hindi atau Arab) bukan bagian wahyu, melainkan tambahan manusiawi, mirip dengan pembagian pasal dan ayat dalam Alkitab.
Perbandingan dengan Taurat dan Alkitab: Tahrif yang Nyata
Untuk membuktikan tuduhan Al-Qur’an, kajian beralih ke Taurat dan Alkitab. Contoh utama: Perbedaan lokasi pengorbanan Ishak (menurut Taurat Yahudi) atau Ismail (menurut Islam), di Kejadian 22:2.
Teks Ibrani (Versi Masoretik/Yahudi):
וַיֹּאמֶר קַח־נָא אֶת־בִּנְךָ אֶת־יְחִידְךָ אֲשֶׁר־אָהַבְתָּ אֶת־יִצְחָק וְלֶךְ־לְךָ אֶל־אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה וְהַעֲלֵהוּ שָׁם לְעֹלָה עַל אַחַד הֶהָרִים אֲשֶׁר אֹמַר אֵלֶיךָ׃
Terjemahan: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak; pergilah ke tanah Moriah (erets hamoriah – אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה), dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”
Versi Samaria (Taurat Samaria):
Lokasi disebut “erets hamoreh” (אֶרֶץ הַמּוֹרֶה) – Merujuk ke Moreh, dekat Sikhem (Shechem), bukan Moriah di Yerusalem.
Perbedaan ini bukan dialek semata, melainkan lokasi geografis: Moriah di Yerusalem (Bukit Zion), Moreh di Nablus (Bukit Gerizim, wilayah Samaria). Jaraknya puluhan kilometer!
Bukti dari Alkitab Perjanjian Baru, Injil Yohanes 4:21:
Teks Yunani (Asli):
Λέγει αὐτῇ ὁ Ἰησοῦς· Γύναι, πίστευσόν μοι ὅτι ἔρχεται ὥρα ὅτε οὔτε ἐν τῷ ὄρει τούτῳ οὔτε ἐν Ἱεροσολύμοις προσκυνήσετε τῷ πατρί.
Terjemahan: “Kata Yesus kepadanya: ‘Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa baik di gunung ini (Gerizim) maupun di Yerusalem, kamu akan menyembah Bapa.'”
Dan Yohanes 4:5: Merujuk ke Sikhar (Sychar), dekat Sikhem, dengan sumur Yakub.
Ini menunjukkan perpecahan antara Yahudi (Yerusalem) dan Samaria (Gerizim) sudah ada sejak abad pertama Masehi, ratusan tahun sebelum Al-Qur’an diturunkan (abad ke-7 Masehi). Dead Sea Scrolls (manuskrip Qumran, ~200 SM – 100 M) mendukung versi Samaria dengan menyebut “Gerizim,” menjadikannya dokumen tertua yang lebih sahih.
Kesimpulan: Validasi Fakta, Bukan Hoax
Kajian ini membuktikan bahwa tuduhan Al-Qur’an terhadap tahrif dalam Taurat adalah fakta historis, didukung oleh perbedaan substantif dalam manuskrip Yahudi dan Samaria. Sebaliknya, variasi dalam Al-Qur’an hanyalah dialek yang tidak mengubah makna. Ini menguatkan integritas Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran, bukan hoax.
Ustaz Ali menutup dengan undangan diskusi terbuka, termasuk kepada Ibu Rita Wahyu, untuk kajian akademis bersama. Kajian semacam ini mendorong literasi keagamaan yang mendalam, agar iman tidak buta, melainkan didasari bukti.
Untuk donasi pembangunan masjid Graha Mualaf atau pembelian buku seperti Ismail dalam Alkitab dan Manuskrip Qumran, hubungi melalui channel resmi. Semoga kajian ini mencerahkan pembaca.
Referensi Tambahan:
- Al-Qur’an Mushaf Standar dan Warsh.
- Taurat Masoretik dan Samaria.
- Alkitab: Injil Yohanes (NIV/Indonesia).
- Dead Sea Scrolls (Qumran Manuscripts)

