Rontgen Kuburan Kaum Yahudi Aschenazi dan Pengubahan Sejarah Palestina
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Berjumpa lagi di channel kita, Edi Prayitno – Menachem Ali Official dan Graha Muallaf. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita selalu mengadakan live untuk membahas masalah-masalah yang sedang viral belakangan ini. Seperti biasa pula, pada malam hari ini kita bersama Ustaz Menachem Ali.
Assalamualaikum, Ustaz.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Kita kedatangan tamu. Sebetulnya ini bukan orang baru. Jauh sebelum YPM terbentuk, beliau sudah ada dan sangat aktif membantu kita.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Panggil apa ini? Syekh, Habib, atau apa?
Biasanya saja, Pak Edi. Gus Dedi. Jangan. Saya dipanggil Mas saja.
Oh, Mas. Mas Dedi.
Jadi, malam hari ini kita kedatangan tamu, Mas Dedi. Beliau dulu sebetulnya sudah sangat aktif di Facebook, kemudian menenggelamkan diri. Kita cari-cari, sudah ketemu, dan kita munculkan kembali malam hari ini.
Baiklah. Pada pembahasan kali ini yang sedang ramai dibahas yaitu masalah perang Israel dan Palestina. Kita selalu mengharap dan selalu berdoa agar perang ini segera usai dan korban-korban tidak semakin banyak berjatuhan. Seperti biasa, kita tetap mendukung kemerdekaan Palestina. Bagaimanapun, teman dan saudara-saudara kita muslim di Palestina jangan sampai lebih banyak jatuh korban. Israel hendaknya segera menghentikan peperangannya dan dilakukan gencatan senjata, karena kasihan para masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa.
Kita ketahui banyak rumah sakit Palestina juga dibom. Bahkan kemarin ada press release dari Kementerian Pertahanan Israel bahwa ada tuduhan rumah sakit Indonesia yang ada di sana dicurigai di bawahnya ada bunker-bunker. Namun sudah banyak yang membantah bahwa itu sebetulnya tuduhan ngawur saja. Tetapi yang jelas, pemerintah Israel sudah banyak menyerang rumah sakit, pengungsian, tempat penampungan air, bahkan pabrik roti. Kemarin tempat pengungsian pun dibom, bahkan ada iring-iringan ambulans yang sudah ditandatangani perjanjian untuk bisa lolos menyeberang ke Mesir itu pun dirudal.
Jadi kita selalu berdoa semoga saudara-saudara kita di Palestina segera bisa diberikan kemerdekaan, kedamaian, dan tidak banyak korban jiwa.
Gini, Ustaz Ali. Kita bahas malam hari ini yaitu masalah Israel dan Palestina. Mungkin Ustaz Ali punya informasi yang penting soal ini. Silakan, Ustaz.
Ya, kalau kita bicara mengenai tema yang sangat krusial dibahas pada hari-hari seperti ini, memang kita harus punya empati kepada saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Mereka adalah orang-orang yang terzalimi, orang-orang yang tertindas. Kita melihat secara langsung melalui media massa ataupun melalui media-media yang lain. Tapi paling tidak, kita harus bisa membaca situasi ini dari perspektif Al-Qur’an, seperti apa.
Kalau kita bicara mengenai tema perselisihan atau perang antara Israel dan Palestina, pasti ada akar masalahnya. Kita paling tidak bisa menjembatani pembahasan ini dari dua sisi: satu dari sisi politik, dua dari sisi agama. Jadi kita bisa lakukan pembahasan itu dari dua hal ini: perspektif politik dan perspektif agama.
Kalau kita mulai dari perspektif agama, tentu saja pijakannya itu kitab-kitab suci yang diimani oleh masing-masing penganut agama. Dari persoalan yang semakin tidak kunjung selesai, dari perspektif politik tentu saja kita tahu kapan Israel itu berdiri dan mereka itu sebenarnya siapa. Itu yang harus kita kenali.
Kalau kita mulai dari perspektif politik dulu, saya kira sudah tahu bahwa dulu di Palestina, di kawasan Timur Tengah yang kita kenal sekarang dengan sebutan Palestina, sebenarnya tidak ada persoalan yang bisa dikatakan konflik yang berkepanjangan seperti ini. Dulu antara umat muslim di Palestina, umat Kristiani di Palestina, dan umat Yahudi di Palestina itu aman-aman saja.
Saya kira kita pernah tahu bagaimana Yerusalem ditaklukkan oleh Khalifah kedua, Sayyidina Umar Ibnu Khattab, tanpa membawa kerugian dari pihak mana pun. Bahkan kekristenan menyerahkan kunci Yerusalem kepada Khalifah kedua dengan sukarela. Jadi antara Kristen, Islam, dan Yahudi bisa bersama-sama melakukan ibadah masing-masing di kawasan yang sama yang dikenal dengan sebutan Palestina.
Kita bisa lihat bahwa The Holy Bible yang diterbitkan sebelum tahun 1960-an itu, di dalam Bible pasti ada yang namanya map (peta). Petanya selalu tertulis Palestine, tidak tertulis Israel, tapi tertulis Palestine di dalam Bibelnya itu. Silakan kalau saudara-saudara atau kita sendiri yang mau mencoba untuk meneliti Bibel terbitan generasi awal, betul atau tidak tertulis peta yang disebut Palestine. Iya, tertulis. Itu artinya apa? Itu menjadi bukti bahwa itu adalah istilah yang sebenarnya menjadi istilah bersama yang diakui, baik itu yang muslim, kemudian yang Kristen juga sama menyebutnya Palestina, dan Yahudi pun juga menyebutnya Palestina.
Yahudi yang ada waktu itu, Pak Edi dan Mas Dedi, yahudinya itu dikenal dengan sebutan Yahudi Mizrahi. Apa itu Yahudi Mizrahi? Orang-orang Yahudi yang mereka itu bertutur, berkomunikasi dalam bahasa Arab, tetapi kalau ditulis dengan menggunakan huruf Ibrani. Jadi tulisannya Ibrani, tapi bahasanya Arab. Ini kalau di Malaysia sama dengan bahasa Melayu, hurufnya Arab, bahasanya Melayu. Atau di Indonesia sini, hurufnya Arab, bacaannya pegon. Iya, betul. Jadi kalau di Jawa itu hurufnya Arab, tapi kalau dibaca Jawa. Itu bukan bahasa Arab, itu bahasa Jawa, tapi hurufnya saja Arab.
Jadi sebenarnya huruf Ibrani itu sebagai penanda identitas keyahudian, meskipun dalam bahasa yang berbeda-beda, termasuk yang pakai bahasa Arab itu disebut Lughatul ‘Arabiyyah al-Yahudiyyah namanya, atau bahasa Arab versi Yahudi. Nah, jadi mereka ini damai, tidak pernah ada konflik dengan muslim, tidak pernah ada konflik dengan kaum Kristiani.
Ini yang kemudian berubah menjadi sebuah persoalan politik yang sampai hari ini tidak pernah selesai, dimulai sejak tahun 1946, ketika terjadi migrasi besar-besaran orang-orang Yahudi dari Eropa. Mereka itu sebetulnya karena adanya kekejaman Hitler. Hitler menawarkan konsep yang sebetulnya sangat rasis waktu itu. Ada yang disebut sebagai Untermensch dan Übermensch. Apa itu? Manusia kelas unggul dan manusia kelas rendah. Manusia kelas unggul itu adalah Arya, sementara manusia kelas rendah itu adalah kaum Yahudi yang waktu itu tinggal di Eropa.
Mengapa bisa begitu? Karena waktu itu di kelompok orang-orang Yahudi di Eropa memang mereka menguasai bidang ekonomi dan mereka itu eksklusif. Mereka menahbiskan diri sebagai orang-orang yang dianggap sebagai anak-anak pilihan atau hamba-hamba pilihan Tuhan. Nah, di situ ada antitesis, ada bentuk perlawanan dari Nazi yang kemudian justru yang awalnya itu mendapatkan posisi kelas tinggi, kemudian direndahkan, diambil alih oleh Nazi: “Kami yang kelas tinggi.” Sehingga mereka harus diusir. Bahkan bukan melalui pengusiran saja, sampai yang terjadi namanya Holocaust, pembunuhan massal.
Akhirnya, daripada mereka itu hampir sebagian besar harus terbunuh, mereka akhirnya mengungsi. Masalahnya mengungsinya ke mana? Mengungsinya dulu diberikan alternatif ke Uganda, tapi mereka menolak karena tidak ada riwayat atau peristiwa masa lampau apa hubungannya dengan Uganda di Afrika. Maka mereka punya memori kolektif: nenek moyang kami dulu kan dari Palestina, dari wilayah Timur Tengah, maka harus kembali ke Palestina. Dan atas rekomendasi dari British waktu itu, maka mereka bisa kembali ke Palestina.
Nah, kalau kembali ke Palestina, kita bisa bayangkan. Kalau satu ruangan itu terdiri atas tiga orang, tiga orang itu sudah sumpek ya. Apa itu sumpek? Tapi kalau ditambah lagi ada sepuluh orang masuk, ruangannya kan tetap sama, tidak meluas. Kira-kira semakin sumpek atau sumpek. Saya pakai bahasa begini supaya gampang dipahami. Jadi semakin padat akhirnya, sehingga yang terjadi apa? Semakin tidak nyaman. Di situlah mulai akar terjadinya masalah.
Jadi tahun 1947 itu sudah mulai banyak yang terjadi migrasi yang disebut dengan sebutan Aliyah. Aliyah itu kembali ke tanah asal, tapi sebetulnya secara harfiah itu naik. Aliyah itu naik sebenarnya.
Oh, gini Ustaz, sebentar. Waktu mereka kembali itu, dia dikasih tanah gratis atau beli?
Sebetulnya, waktu mereka ketika kembali itu, ada yang membeli tanah setempat, tapi lama-lama bukan hanya membeli, tapi merampas. Nah, itu. Mengapa terjadi perampasan itu? Karena pada tahun 1948, tadi kan mereka mulai awal mengungsi itu tahun 1946, 1948 baru dideklarasikan jadinya negara Israel, kemerdekaan Israel. Di situlah mulai berkuasa dan melakukan perampasan-perampasan. Sampai pada akhirnya perampasan-perampasan itu semakin memuncak karena terjadi perang besar pada tahun 1967.
Tahun 1967 saat itu masih hidup seorang ulama besar dari Lebanon yang kemudian pindah ke Palestina waktu masa damai, ya, belum terjadi migrasi besar-besaran itu, dan wafat di wilayah Palestina. Tapi kemudian terjadilah pengubahan. Ketika beliau wafat, kuburannya diganti. Yang awalnya itu namanya Syekh Abbad—Syekh Abbad otomatis muslim kan—tapi kemudian diganti menjadi makam Rabbi Asyi. Coba, oleh mereka yang berkuasa di situ bisa ditampilkan gambarnya.
Nah, ini sebetulnya pintu gerbang untuk masuk ke makam Syekh Abbad sebetulnya, tapi sudah diubah. Makam Syekh Abbad dihapus. Di situ namanya diganti menjadi Rabbi Asyi. Ini namanya Rabbi Asyi. Artinya Rabbi Asyi. Kalau disebut Rabbi Asyi, ya itu bukan nama sembarangan. Itu Rabbi Asyi. Kalau Rabbi Asyi berdasarkan dokumen tulisan dari Jacob Neusner—ini Rabbi Jacob Neusner—ini menghimpun semua data mengenai rabi-rabi generasi awal, generasi yang paling awal, siapa saja. Hidup masanya itu sebelum era Islam. Makanya di sini disebut The Dictionary of Ancient Rabbis, kumpulan informasi mengenai rabi-rabi masa kuno. Siapa itu Rabbi Asyi?
Nah, kita lihat di sini ya. Pada halaman 74 disebutkan Asyi. Jadi Rabbi Asyi ini lahir tahun 352, meninggal tahun 427 Masehi. Berarti ini abad ke berapa? Abad kelima Masehi. Ya, kalau abad kelima Masehi, beliau itu salah satu di antara editor kitab yang disebut Kitab Talmud. Kitab Talmud Bavli itu yang menyusun terakhir ada Rabbi Asyi. Berarti ini tokoh sentral. Enggak? Tokoh sentral. Sama seperti kalau kita punya Kitab Sahih Bukhari, iya kan, itu siapa yang mengompilasi yang terakhir? Nah, itu pasti orang penting kan. Sama seperti Talmud. Karena dalam tradisi Yahudi itu ada Talmud Bavli, ada Talmud Yerushalmi. Yang mengompilasi terakhir dan sekaligus memberikan syarahnya—kalau dalam tradisi Islam itu yang memberikan syarah Sahih Muslim itu kan Imam Nawawi. Nah, Imam Nawawi itu kan tokoh sentral. Itu kalau dalam tradisi Islam. Sama seperti tradisi Yahudi punya tokoh sentral. Siapa yang mengompilasi terakhir dan memberikan syarahnya terhadap Kitab Talmud? Itulah yang bernama Rabbi Asyi. Ya, Asyi.
Saya ulangi lagi. Beliau lahir tahun 352 Masehi, meninggal tahun 427 Masehi. Berarti ini abad kelima. Pertanyaannya, kalau ini diklaim makam ini sebagai makam Rabbi Asyi, mana yang lebih kuat klaim umat Islam atau klaim orang Yahudi?
Saya tanya ulang. Kalau Syekh Abbad itu kan tokoh umat Islam, sedangkan yang menerima risalah Islam itu adalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau dilahirkan tahun berapa? 571 Masehi, abad ke-6, meninggal tahun 632 Masehi. Saat itu Islam baru merupakan embrio, sementara Syekh Abbad itu baru muncul belakangan. Iya kan? Dan itu menjadi warisan kaum muslim di Palestina, adalah tokoh sentral di Palestina. Tetapi karena itu diakui sebagai makam Rabbi Asyi, kira-kira mana yang lebih valid menurut dokumen data Yahudi?
Menurut data Yahudi lebih tua mana? Kalau dibandingkan dengan data Yahudi, ya lebih tua data Yahudi. Data Yahudi, karena argumentasinya ini makam Rabbi Asyi. Rabbi Asyi sebelum munculnya Nabi Muhammad kan, karena sebelum munculnya Nabi Muhammad ﷺ berarti belum ada Islam. Iya. Padahal ini sebetulnya makamnya Syekh Abbad. Mengapa bisa begitu?
He, kira-kira apa sebabnya?
Enggak, maksudnya. Maaf, rap, interupsi sedikit. Ini tadi, tapi terverifikasi ya, memang itu makamnya Syekh Abbad ya? Maksudnya sudah ada, memang terverifikasi bahwa itu adalah makamnya Syekh Abbad, karena beliau wafat di kawasan Tanah Palestina dan waktu itu sudah masyhur bahwa itu adalah makam beliau.
Oh, tahun 1967. Setelah tahun 1967 ada seorang tokoh rabi yang bernama Mordekai, seorang tokoh spiritual Rabbi Mordekai, yang kemudian mengklaim dengan mukasyafahnya bahwa itu adalah makam Rabbi Asyi. Pada saat tahun setelah 1967 itu baru kemudian diklaim dan dibuatkan tanda bahwa ini adalah makam Rabbi Asyi, sehingga makamnya itu terbelah dua. Makamnya itu perbatasan soalnya dengan Lebanon. Ya. Jadi sebagian masuk wilayah Lebanon, sebagian masuk wilayah Israel, dari wilayah Palestina yang direbut wilayah Israel karena diambil dari wilayah Palestina.
Lihat gambar ini. Makamnya terbelah. Ini terbelah dua. Jadi ini yang di luar ya, ini masuk kawasan Lebanon. Yang di dalam yang dipisah oleh apa ini, pagar. Ini itu lebih luas kawasannya. Jadi ini makam dibelah dua, tetapi ini diklaim sebagai nama Rabbi Asyi. Tulisan Syekh Abbad di sini dihilangkan. Dihilangkan. Tapi untuk orang Lebanon sendiri masih percaya ini ya, masih percaya makam Syekh Abbad sebagai makam Syekh Abbad. Orang Palestina juga mengakui ini sebagai makam Syekh Abbad, tapi mereka enggak bisa ke sini karena sudah dibuatkan pagar bahwa ini adalah makam Rabbi Asyi.
Sebentar dulu. Ini masih wilayahnya Palestina?
Iya, tapi saat dikuasai Israel, tanahnya direbut. Direbut, kemudian makamnya dipasang pagar. Ini berarti karena orang Lebanon mengakui ini sebagai makam Syekh Abbad, yang Israel mengakui makam Rabbi Asyi, berarti dibelah jadi dua. Makam dibelah dua. Jadi orang Lebanon mengakui itu adalah makam Syekh Abbad, orang Palestina Arab Palestina mengakui itu sebagai makam Syekh Abbad. He. Tapi karena tanahnya itu sudah diambil alih dan direbut oleh pemerintahan Israel waktu itu, maka diubahlah nama makam Syekh Abbad menjadi makam Rabbi Asyi atas rekomendasi Rabbi Mordekai. Berarti makamnya Rabbi Asyi sendiri tidak diketahui berarti ya. Sebetulnya kalau dari sisi historis enggak ada makamnya Rabbi Asyi, tapi karena ini diklaim berdasarkan informasi dari Rabbi Mordekai yang dianggap sebagai tokoh spiritual tadi itu, maka orang Yahudi mengakui bahwa itu adalah bagian dari makam keagamaan orang Yahudi.
Maaf, rap. Ini saya mau bertanya. Saya menarik tadi waktu jenengan menjelaskan bahwa metode yang dipakai Rabbi Mordekai ini kan kasyaf. Ya. Kalau dari tradisi Yahudi kan ada istilah yang disebut Kabala. Iya, betul. Kabala itu kalau di dalam tradisi Islam sama dengan Sufi sebutannya. Nah, ini saya kok melihat metode yang similar di sini juga similar dengan metodenya Rabbi Mordekai ini tadi. Heeh. Mungkin kalau di sini istilahnya ronsen kuburan itu mungkin ya. Ronsen kuburan. Eh, itu mungkin istilah yang di sini ya. Iya, istilah yang di Indonesia yang lagi ramai-ramai itu ya. Ya, saya enggak tahu kalau misalnya ada kesamaan. Ya, enggak tahu. Kok bisa sama juga, saya enggak paham. Tapi yang jelas, kalau misalnya pakai istilah ronsen kuburan, memang Rabbi Mordekai menggunakan ronsen kuburan untuk menjustifikasi bahwa ini adalah makam Rabbi Asyi. Dan dari sisi penanggalan memang Rabbi Asyi itu kan hidup sebelum zamannya Nabi Muhammad ﷺ, jadi sangat lebih kuat, apalagi ditopang dengan inkuisisi tanah Palestina menjadi wilayah Israel. Iya kan? Jadi semakin kuat.
Sebetulnya apa sih urgensinya sampai mereka memperebutkan makam ini?
Ya, ini penting, Pak Edi. Tadi kan saya sudah berkata, ini bukan persoalan tanah Palestina saja. He. Kita harus tahu pemerintahan Israel yang sekarang. Ya, pemerintahan Israel yang sekarang itu bukan dikuasai oleh orang Yahudi Mizrahi. Bukan. Bukan dikuasai oleh orang-orang Yahudi Temani yang dari wilayah lain. Juga bukan dari kalangan orang Yahudi Sefardi. Tapi yang berkuasa itu orang Yahudi Askenazi. Yang berkuasa. Ya, perlu dijelaskan ini, Ustaz. Apa itu Askenazi? Perlu dijelaskan.
Nah, sekarang begini. Ada yang namanya Yahudi Falasha. Yahudi Falasha itu orang Yahudi keturunan Ratu Sheba dengan Sulaiman. Itu yang mereka dikenal dengan sebutan Yahudi Falasha, kulitnya hitam, Pak Edi. Dan memang mereka berasal dari wilayah Ethiopia, dan sekarang juga masuk kawasan Eritrea ya. Mereka ini semua penutur bahasa Ibraninya fasih, dan mereka mengakui bahwa kami keturunan Salomo, malah Salomo beserta istrinya Ratu Sheba atau Ratu Balkis kita sebut dalam tradisi Islam. Dan mereka ini tidak mendapatkan tempat terhormat di wilayah Israel. He. Mengalami yang disebut apartheid. Apa itu apartheid? Anu, pengkastaan gitu, ada kasta. Jadi mereka itu kalau mau donor darah enggak diterima karena kulit hitam itu ya. Bisa jadi karena kulitnya hitam atau kelas rendah. Tapi yang berkuasa itu kan yang disebut Yahudi Askenazi.
Yahudi Askenazi itu sebetulnya bukan Yahudi asli. Oh, tapi Yahudi kelas di luar dari 12 suku Israel. Oh, itu di luar. Di luar dari 12 suku Israel berarti mereka bukan dari 12 suku itu tuh ya. Makanya disebut Yahudi Askenazi. Nah, tapi kok mengakui Yahudi ya?
Nah, begini ya. Itu kembalinya ke Alkitab sendiri ya. Kembalinya ke Alkitab. Alkitab itu mungkin bisa ditampilkan yang terjemahan bahasa Indonesia dulu. Apa itu Alkitab? Oh, Alkitab. Tolong, Pak Edi, bisa buka. Dalam Kitab Kejadian, Kitab Kejadian pasal 10 ayat 1 dan ayat kedua. Kitab Kejadian pasal 10, ayat 1 dan ayat 2.
“Inilah keturunan Sem, Ham, dan Yafet, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu, lahirlah anak laki-laki bagi mereka. Keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh, dan Tiras. Keturunan Gomer ialah Askenas, Rifat, dan Togarma. Keturunan Yawan ialah Elisa, Tarsis, orang Kitim, dan orang Dodanim. Dari mereka inilah berpencar bangsa-bangsa daerah pesisir. Itulah keturunan Yafet, masing-masing di tanahnya dengan bahasanya sendiri, menurut kaum dan bangsa mereka.”
Coba perhatikan di ayat pertama ini. Inilah keturunan Sem. Jadi Sem itu anaknya Nabi Nuh. Nabi Nuh. Sem melahirkan beberapa anak. Tapi kita lihat di situ ya. Inilah keturunan Sem, Ham, dan Yafet. Siapakah mereka ini? Anak-anak Nuh. Ya, jadi Nuh itu Nabi Nuh punya anak yang namanya Sem, punya anak namanya Ham, punya anak namanya Yafet. Dari nanti itu muncul Bani Ismail, dari Bani Israil. Ya, Bani Israil itu diwakili dengan 12 suku ya. 12 suku. Nah, selain ada Sem, ada Ham, ada Yafet. Nah, kemudian dijelaskan: Setelah air bah itu lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka.
Nah, sekarang fokus ke ayat kedua. Keturunan Yafet. Ya, berarti saudaranya Sem. Siapakah itu Yafet? Ya, anaknya Nabi Nuh. Siapa saja anak-anaknya Yafet? Disebutkan keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh, dan Tiras. Ya, perhatikan itu ada sebutan nama Magog. Siapa itu Magog? Nah, nanti saya jelaskan.
Ayat yang ketiga: Keturunan Gomer ialah Askenas, Rifat, dan Togarma. Siapa itu Askenas? Di sini disebutkan Banu Gomer: Askenaz. Askenaz yang dalam bahasa Ibrani nanti aslinya disebut Askenaji. Oh, jadi Askenaji itu sebetulnya bukan orang dari kalangan Bani Israil. Berarti bukan keturunan dari Sem. Ya, bukan. Bukan keturunan Sem, tapi mereka ini adalah orang dari keluarga besar Yafet, dan sekaligus masih ada kaitan dengan orang yang disebut Magog. Oh, Askenazi. Makanya orangnya disebut orang Askenazi. Askenazi yang memeluk agama Yahudi disebut sebagai Yahudi Askenazi. Oh, itu kalau satu orang disebut Askenazi, tapi kalau banyak orangnya disebut Askenazim.
Nah, Yahudi Askenazim itu bukan bagian dari 12 suku Israel itu, karena istilah Askenazi itu bukan dari keturunan Sem, tapi keturunan Yafet. Siapa yang berkata begitu? Alkitab sendiri mengatakan demikian. Jadi Alkitab mengatakan demikian.
Nah, kalau begitu, siapa yang berkuasa di pemerintahan Israel sekarang? Orang-orang Yahudi Askenazi. Oh, nah. Orang-orang Yahudi Askenazi itu sebetulnya tidak disepakati kebijaksanaannya oleh orang-orang Yahudi Mizrahi, tidak disepakati kebijaksanaannya oleh orang-orang Yahudi Sefardi. Karena apa? Ini pemerintahan yang sangat tidak memberikan tempat atau ruang bagi yang lain. Bukan hanya kepada yang non-Yahudi, yang Yahudi sekalipun kalau bukan Askenazi dianggap kelas bawah. Atau sekarang yang lebih populer dinamakan Israel Zionis itu. Iya, betul.
Itulah sebabnya kalau Pak Yahudi cermat mencermati media massa, itu kan ada orang Yahudi yang pakai pakaian hitam, kemudian di sini ada cambang yang panjang. Itu ini yang disebut orang-orang Yahudi Ortodoks, dan kebanyakan dari kalangan orang-orang Yahudi Mizrahi, orang-orang Yahudi Sefardi. Mereka ini tidak sepakat dengan kebijakan pemerintahan Israel yang sangat memberikan kasta-kasta kepada warganya, bahkan kepada orang-orang Yahudi itu sendiri. Dan mereka tahu ini dari orang-orang Yahudi Askenazi.
Tahu enggak orang-orang Yahudi Askenazi dari mana? Dari Kaukasus. H. Kaukasus. Dan siapa yang berkata begitu? Guru saya sendiri. Siapa itu? Syekh Imran Hosein. H. Siapa yang enggak tahu Syekh Imran Hosein? Semua orang tahu. Jadi Syekh Imran Hosein itu sangat terampil untuk menguraikan siapa itu orang-orang Askenazi, Yahudi Askenazi ini. Dan yang melakukan perampasan terhadap tanah Palestina itu adalah kebijakan Yahudi Askenazi. Dan yang mengubah makam dari Syekh Abbad menjadi makam Rabbi Asyi adalah dari kalangan Yahudi Askenazi.
Mengapa bisa begitu? Wallahu a‘lam. Ini menarik tadi. Dari penjelasan jenengan ini tadi, saya kok kembali lagi dapat deja vu gitu. Ra, ini kok saya melihat metode yang similar juga di sini gitu. Metode similar yang bagaimana maksudnya? Ini kan kalau dari pihak pemerintah Israel ini kan istilah yang saya ambil mungkin mereka melakukan pengaskenasian gitu loh untuk makam Syekh Abbad ini kan. Iya. Heeh. Di sini pun ada hal seperti itu. Apa itu maksudnya? Ya, makam di… istilahnya kalau Israel diaskenasikan juga seperti itu. H. Kemudian juga masalah pengkotakan kasta itu juga ada di sini. Iya. Muncul seperti itu juga. Wallahu a‘lam. Ya, saya enggak bisa jawab. Tapi yang jelas kalau misalnya ada kemiripan, bisa jadi karena memang itu ada kesamaan historis. Oh, perjalanan historis. Tapi namanya kemiripan itu kan bisa saja terjadi. Bisa jadi kebetulan juga. Apa yang terjadi di sana itu memang ada yang disebut apartheid. Apartheid itu ada yang kelas tinggi, kelas puncak, pengkastaan, dia pengelompokan. Dari iya, yang selain itu semua kelas rendah. Dia Arya, yang lain ini budaknya. Iya, saya tahu. Yang jelas begitulah. Ini fakta yang tidak bisa ditolak bahwa makam Syekh Abbad yang sebetulnya itu warisan bersama bagi orang-orang muslim di Lebanon, yang kebetulan beliau itu wafat di kawasan Tanah Palestina setelah melakukan rihlah dan pengajaran kepada orang-orang Palestina sebelum tahun 1967. Setelah tahun 1967, ketika bangsa Arab kalah perang, saat itulah terjadi pengaskenasian makam Syekh Abbad menjadi makam Rabbi Asyi. Jadi makam Syekh Abbad hilang, namanya dihapus, enggak ada. Tapi yang muncul adalah Rabbi Asyi.
Coba tadi Pak Edi. Ini kan ini masuk sudah kawasan Israel. Nah, ini pintu gerbangnya. Coba, mana ada nama Syekh Abbad? Enggak ada. Enggak ada. Betul. Lihat ini. Ditulis Rabbi Asyi. Rabbi Asyi. Resh, Bet, Alef, Shin, Yod. Rabbi Asyi. Mana ada nama Abbad? Enggak ada. Enggak muncul. Dan uniknya metodenya tidak ilmiah loh. Dia menjustifikasi kan tadi ya karena mukasyafah. Karena apa? Kalau di sini he, apa, ronsen kuburan. Ronsen kuburan. Oh, istilah baru ya. Saya sebenarnya kurang paham juga itu metodenya. Pakai jadi pakai mata yang bisa keluar sinar X-ray atau bagaimana itu kan. Soal klaim. Klaim dari orang-orang Askenazi itu untuk menyatakan bahwa ini memang makam Rabbi Asyi. Rabbi Asyi lebih ada lebih awal sebelum munculnya Nabi Muhammad ﷺ, apalagi ulama muslimnya baru belakangan. Begitu kan argumentasi orang Askenazi. Atau kemungkinan tidak banyak peninggalan buku-buku yang mencatat kisahnya Syekh Abbad tadi. Mungkin sebetulnya ada, cuma kita kan tidak terlalu banyak mengetahui. Kalau menurut informasi dari tradisi Lebanon, Syekh Abbad itu memang dari tradisi orang Syiah. Oh. Yang punya datanya itu orang Syiah. H. Anu, maksud saya kira-kira hal-hal pengaskenasian dalam kutip ini seperti ini itu menurut menurut Raf Ali ini membawa dampak masif atau tidak sebetulnya?
Oh, dampaknya masif. Sehingga yang ada di media massa ini kan bagian dari informasi media massa. Iya, betul. Mengapa yang muncul di kubahnya ini? Ini kan ibaratnya sama dengan kubah kan. Ternyata yang muncul hanya Rabbi Asyi. Rabbi Asyi aja. Rabbi Asyi. Ini kabar Mar Rabbi Asyi. Kabar itu kubur. Kubur Mar Rabbi Asyi. Mar itu yang dipertuan atau yang dimuliakan. Iya. Lucu itu. Makamnya makamnya terbelah jadi dua itu. Iya. Ini makamnya terbelah jadi dua. Jadi rebutan itu mungkin ya antara orang Lebanon sama orang Israel. Cuma uniknya kalau di bagian wilayah yang dikuasai Israel, karena itu bagian wilayah Palestina kan dikuasai Israel, dimunculkan nama Rabbi Asyi. Sedangkan yang di bagian yang separuhnya sana tidak diberi nama. Oh, yang hilang. Berarti ini melakukan perampokan sejarah sebetulnya ya. Kalau orang-orang Yahudi Askenazi bukan perampokan sejarah, tapi itu merupakan penciptaan sejarah berdasarkan klaim dari tradisi internal mereka. Menciptakan tokoh di sini makamnya. Mungkin supaya nanti enggak diklaim sebagai tokoh fiktif kan itu ya. Memang kalau ada kuburannya kan bukan tokoh fiktif. Padahal ini kuburan orang lain gitu loh. Ya, menurut siapa dulu? Menurut orang muslim kan. Tapi menurut orang Yahudi bukan. Ini Rabbi Asyi. Maksudnya orang Yahudi Askenazi. Cuman ya lucu juga sih. Tapi memang pembuktiannya memang susah ya, Ustaz ya. Memang memang susah, karena apalagi ada kaitan dengan politik kan. Oh, siapa yang bisa melawan atau bisa mencegah bahwa ini adalah makam dari Rabbi Asyi? Siapa yang bisa mengubah itu? Enggak ada. Ini kan sudah dalam cagar budaya orang-orang Yahudi Askenazi. Sudah masuk. Berarti tujuannya dia ke arah wilayah ini mungkin bukan sekadar wilayah, tapi sejarah. Iya. Jadi dia mengaskenasikan sejarah supaya dia bisa menguasai. Iya kan akhirnya.
Ya, begitulah. Jadi sebetulnya Israel itu bukan hanya tidak mendapatkan simpati di kalangan yang muslim, tapi yang Yahudi sendiri. Yahudi yang asli, maksudnya Yahudi tanah Palestina, tanah Palestina itu tidak merekomendasi apa yang dilakukan oleh pemerintahan. Betul juga. Banyak kemarin-kemarin ada demo itu. Bahkan orang-orang Yahudi yang rambutnya pakai kuncir itu kan dipukuli sama Zionis di situ, tentara-tentara. Betul. Jadi sebetulnya di sana itu bukan dipahami semua orang Yahudi itu buruk. Enggak bisa begitu. Itu terlalu menyederhanakan masalah. Bisa jadi antara Yahudi dengan Yahudi itu ada clash. Karena apa yang berkuasa ini Yahudi Askenazi. Bahkan menuntut perdana menterinya mundur itu. Betul. Oh, itu.
Jadi kalau begitu, kita kan sekarang di Indonesia ini informasinya kadang-kadang masih kurang sepotong-sepotong. Seakan-akan ini konflik agama murni. Padahal bukan. Itu bukan konflik agama murni. Itu konflik politik yang dibungkus dengan jubah agama. Ada peran agama itu. Iya, betul. Tetapi itu bukan masif, tapi yang sangat urgen itu konflik politik. Itulah sebabnya orang-orang Yahudi sendiri tidak sepakat dengan kebijaksanaan pemerintahan Israel sendiri. Pemerintahan yang dibawa kekuasaan orang-orang Askenazi yang sebetulnya bukan dari kalangan Bani Israil. Bukan Israel. Tapi ada anggapan ini karena yang bertahan di Israel waktu itu kan dari kaumnya Yehuda dan Benyamin. Mereka mengatakan Askenazi itu mungkin ke-10 suku yang hilang itu kembali. Bukan seperti itu ya. Mungkin ya. Ya sebetulnya tidak demikian. Maksudnya 10 suku yang hilang itu kan mesti ada nasabnya kan. Ini keturunan siapa, keturunan siapa. Kalau disebut Askenazi jelas keturunan itu kan dari keturunan Yafet. Iya, bahkan sebagai keponakan atau apa ya, anak dari saudaranya Magog atau Magog tadi. Ya, Magog. Iya. Tapi bisa aja dia dapat kasyaf lagi kan, dapat mimpi lagi. E, saya enggak tahu. Karena itu persoalan apa ya, spiritual. Dan yang persoalan spiritual kan bukan hanya Islam. Iya. Itu kalau di Islam kan namanya wali-wali gitu ya. Wali ini mengatakan demikian, mendapatkan kasyaf gitu ya. E, kalau saya sih bukan wali. Kalau saya mungkin lebih tepatnya dan kita-kita semua ini bukan wali. Ya, tapi wali murid, wali murid. Atau paling banter kita ini wali santri, wali santri. Tapi kita ini ya bukan. Bukan kita menuduh Wali Songo. Bukan. Kita ini kita ini kita ini Wali Songo? Eh, Wali Songo. Kita ini Wali Santri, bukan Wali Songo. Kita ini bukan. Atau mungkin belum. Makanya sampean bisa jadi seperti ini. Itu sudah diketahui sudah go internasional. Makanya di sini dipasang plakat kan. Ini plakat loh. Iya. Plakatnya apa? Mar Rabbi Asyi. Cuman menarik. Raf. Kalau di Indonesia dia enggak mungkin disebut. Kalau Arabnya kan kubur gitu ya. Heeh. Kalau Indonesia bukan sebut kubur. Makom. Oh, makam. Makam beda lagi. Makom itu istilahnya enggak tepat sebetulnya. Lebih tepat seperti ini. Karena kan kubur. Mak. Heeh. Kalau makam kan seperti makam. Kan tempat berdiri. Makam itu enggak mesti kuburan soalnya. Oh, iya. Seperti di depan Ka‘bah itu kan ada Makam Ibrahim. Nah, Makam Nabi Ibrahim kan jejak telapak kaki Nabi Ibrahim. Jadi bukan kuburannya Nabi Ibrahim di situ. Tapi Makam Ibrahim itu kan bukan kuburan Nabi Ibrahim. Dan tidak ada seorang pun yang berani itu menyulap jadi kuburan. Enggak boleh. Kalau di Indonesia napak tilas itu dibuat jadi kuburan ada nisan. Yang kapan hari beberapa kuburan dibongkar itu ya. Oh, begitu ya. Ada berita seperti itu ya. Saya enggak tahu kenapa. Ada sesuatu yang iya, kemiripan ya. Mungkin karena punya sejarah yang kebetulan sama. Saya jujur pengin belajar itu metode ronsen itu bisa dipelajari secara akademis. Nah, ini kalau orang Indonesia mengatakan ini metode ronsen, tapi mereka enggak mengatakan metode ronsen itu dari kasyaf dari seorang kabalis. Kabalis itu praktisi Kabalah. Dia tahu ini ini kuburan. Ini enggak perlu pakai bukti arkeologi. Kalau dia sudah mengatakan demikian, langsung percaya. Karena mungkin bisa berdialog dengan roh-roh itu mungkin ya. Karena kalau sudah masuk dalam tradisi Kabala itu enggak ada seorang pun yang bisa membantah itu. He. Ya, itu juga nih yang munculnya ini kan R. Kayak apa namanya genom-genom itu kan dia ngambil dari elemen tanah. Bisa jadi iya. Prajurit itu kan. Iya. Tapi yang jelas pada konflik Palestina ini memang tadi disebutkan Ustaz tidak ada kepentingan agama, tetapi karena korbannya ini adalah orang-orang muslim sebagian besar, orang-orang muslim besar, akhirnya sesama muslimlah kita. Iya, mendukung secara kemanusiaan ya. Kita mendukung bahwa dalam perang itu, dalam perang di mana pun, yang jadi korban itu bukan pihak yang berperang, tapi orang sipil. H. Orang sipil, wanita tidak berdosa, anak-anak tidak bersalah. Merekalah yang jadi korban karena peluru, rudal, bom ini tidak punya mata. He. Makanya kan saya ini jadi sasaran tembaknya ya orang-orang lemah seperti ini.
Cuma masalahnya begini. Ini apakah selesai atau tidak selesai ya konflik Israel-Palestina? Kalau dari sisi terawangan saya, ini sudah mulai belajar terawangan. Ini bukan maksudnya masuk ke Sufi. Bukan. Kalau kita lihat dari perjalanan historisnya ya. Apa bisa Israel, negara Israel dibubarkan? Sangat sulit. Sulit. Karena apa? Karena didukung oleh negara-negara NATO terutama yang punya hak veto. Negara-negara besar yang punya hak veto enggak mungkin akan melepaskan Israel sendirian. Tidak. Kalau Israel tidak bisa dibubarkan ya, klaim seperti makam Rabbi Asyi ini ya tetap menjadi milik Israel. Atau mungkin wilayahnya akhirnya dibagilah gitu ya. Ada pembagian yang jelas gitu. Ya, sepertinya enggak bisa dibagi. Karena ini kalau sudah menjadi milik, susah untuk dilepas, Pak. Ini susah. Kalau bisa ada pembagian, sudah damai sebetulnya. Ini kan masalahnya itu tadi pemerintah Yahudi Askenazi dalam negara Israel ini ingin seluruhnya itu tadi mereka klaim sebagai wilayah mereka. Kan. Kalau mereka mau berbagi, enggak bakal bisa. Apalagi sekarang kalau kita ketik di Google itu peta Palestina sudah tidak muncul. Itu jangan kan klik peta Palestina enggak muncul. Klik makamnya Syekh Abbad enggak muncul. Oh, dihilangkan di website itu. Iya. Yang muncul makamnya Rabbi Asyi. Rabbi Asyi yang keluar. Jadi sebetulnya ini bukan sekadar persoalan fisik, tapi yang dunia maya juga ikut menunjang. Data-data itu kita kesulitan untuk mencari data selengkap-lengkapnya kecuali kalau kita baca seperti ini buku-buku yang diterbitkan oleh kalangan Yahudi sendiri. Ini nama-nama rabi lengkap itu mulai dari tahun berapa, abad pertama, abad kedua, ketiga, keempat, kelima, semua di sini ada. Memang iya.
Raf, kalau ingin memusnahkan suatu bangsa itu yang dirusak sejarahnya dulu. Iya. Mungkin sejarah diputus dulu. Jadi memang teknik ini memang sudah teknik valid sebetulnya. Jadi mungkin maksudnya pemerintah Askenazi ini kan untuk menghapus sejarah Palestina. Sejarah Palestina termasuk orang-orang penting dari tradisi Palestina diaskenasikan. Orang-orang awam mungkin menganggap itu hal sepele. Enggak akan. Itu penting. Enggak penting gitu loh. Tapi faktanya masif rusaknya itu. Tapi bagi orang Palestina penting itu. Karena apa? Nama Syekh Abbad enggak muncul lagi. Alhamdulillah berarti banyak orang di Palestina yang paham gitu loh. Sayangnya di sini tidak gitu loh. Tapi yang jadi yang jadi masalah ini yang kasihan yang dikubur di dalam. Karena dulu beliau ini adalah seorang syekh dari muslim, tiba-tiba separuhnya jadi Yahudi. Separuh. Gimana ya, Pak? Ya, gimana ya. Kita enggak bisa bayangkan. Orang yang sudah meninggal kita juga enggak bisa komunikasi dengan beliau. Seandainya dia tahu kuburnya dibelah jadi dua, apakah dirinya ikut terbelah jadi dua, kita juga enggak tahu. Tapi yang paling tidak, amalan seseorang itu tidak bisa diputus meskipun kuburnya dibelah. Bukan hanya dibelah, diberikan kawat berduri. Iya. Ini belum dibahas dalam. Ini yang dibelah hanya perbatasan. Apa dalam-dalamnya ini ya. Enggak tahu ya. Jelas ya. Perbatasan dari wilayah aja. Mas, masa tulangnya dipisah jadi dua. G, ekstrem ya. Itu mudah-mudahan menjadi informasi bagi semua netizen bahwa apa yang dilakukan di sana di Palestina itu seperti ini. Bukan hanya wilayahnya yang diambil alih, tapi tempat sejarah, makam orang yang dimuliakan juga diambil alih, dinamakan menjadi Rabbi Asyi.
Mau ada pendapat, silakan ya.
Kalau saya pribadi sih sejalan dengan konsepnya Prof. Ali bahwa untuk merusak suatu negara atau bangsa itu yang dirusak sejarahnya dahulu. Dan itu merupakan langkah paling efektif karena orang-orang awam pasti akan menyepelikan hal seperti itu. “Alah, gitu aja.” Berbeda kalau kita mungkin langsung nyerang atau apa kan mereka langsung aware ya, Raf. Ya. Tapi kalau sejarahnya dirusak dulu, identitas bangsanya dihilangkan dulu, nanti mereka akan lupa, lupa, lupa. Anak turunnya lupa, lupa, lupa. Enggak tahu jati diri mereka. Ya. Kalau kita hidup semasa dengan pelaku sejarah misalnya, tapi kalau anak cucu kita kan enggak tahu. Tahu apalagi dokumennya. Barang dokumennya juga dimusnahkan. Tadi di internet juga dihapus. Iya. Di internet enggak ada. Kita cari Syekh Abbadnya, ketemu pengaskenasian seperti itu. Memang konsepnya. Apalagi mereka yang menguasai internet, mereka bisa berkuasa menghapus apa saja. Itu mungkin menghapus peta Palestina pun bagi mereka tinggal klik aja, hilangin namanya. Itu. Makanya untuk pesan saya sih untuk generasi selanjutnya ini, Pak Edi ya, Pak Ali, jangan lupakan sejarah. Seperti pesan Bung Karno kan. Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Baik. Jas Merah kita. Baik. Saudara-saudaraku sekalian.
Jadi menarik ya. Kita sudah dikasih gambaran di sini bahwa sebetulnya keserakahan dari bangsa Israel, bangsa Israel yang berkuasa saat ini itu bukan asli dari suku 12 suku Israel ya, tetapi dari suku Askenazi. Askenazi ini di luar 12 suku Israel. Mengapa kita bisa, mengapa saya berkata itu? Karena di dalam tayangan-tayangan di YouTube kita bisa saksikan ada perselisihan juga di internal di kalangan Israel sendiri. Bahkan Perdana Menteri Netanyahu sekarang juga dipaksa untuk mundur. Bahkan beberapa video di sana kita bisa melihat ada aksi demo yang dilakukan oleh orang-orang dari Yahudi Ortodoks. Cirinya apa? Cirinya ada kuncir ya, kuncir rambut. Dan itu mereka masih mengaku bahwa mereka berasal dari 12 suku Israel. Dan mereka bertentangan dengan orang Israel yang berkuasa saat ini yang sering dikatakan bahwa mereka adalah dari kelompok para Zionis ya. Jadi tadi sudah dikatakan bahwa orang Israel tidak semuanya jelek, tetapi tidak semuanya baik. Itu memang kenyataannya ya. Jadi dari sini kita bisa melihat dengan jernih permasalahan di sini. Tadi sudah dijelaskan ini bukan permasalahan agama, tetapi dibawa ke agama. Tetapi yang jelas di sana korbannya adalah orang-orang muslim. Kita wajib berempati sesama muslim. Dan kalau ada sumbangan dan sebagainya, wajib kita membantu ya. Karena mereka diblokade. Jadi semua perbatasan itu diblokade Israel. Bahkan air minum, makanan, semua dihancurkan. Itu sangat luar biasa ya. Kejahatan perang yang sangat luar biasa. Dia memaksa orang-orang sipil ini supaya tidak bisa makan, tidak bisa minum, mati kelaparan. Itu sangat sangat kejam.
Ya, baiklah. Saya ingatkan sekali lagi bahwa kita punya program bangunan masjid di Wonosalam yang teksnya berjalan. Ya, silakan Anda salurkan, donasikan uang Anda untuk program kami yaitu membangun pondok pesantren sekaligus masjid di Desa Wonosalam, Jombang, di nomor rekening Bank Syariah Indonesia 111-888-9971. Dan semua sumbangan Anda akan kami pergunakan sepenuhnya untuk pembangunan masjid di sana. Jadi tolong jika saudara ingin berderma, berdonasi, silakan kirim di tagline bawah ini.
Mungkin ada closing, silakan.
Bali ya. Eh, paling tidak ada dua hal yang harus kita pahami. Pertama, pemerintahan Israel yang sekarang yang berkuasa itu adalah dari kalangan Yahudi Askenazi. Istilah atau sebutan Askenazi bukan bagian dari kalangan Bani Israel. Kalau disebut sebagai Bani Israel, mereka adalah kaum Yahudi Temani, kaum Yahudi Falasha, kaum Yahudi Mizrahi. Tapi kalau disebut Askenazi itu adalah keturunan dari Yafet, bukan keturunan dari Sem. Itu catatan yang harus dipahami.
Kedua, apa yang dilakukan oleh pemerintahan Israel ketika melawan bangsa-bangsa Arab tahun 1967, perang 6 hari itu, itu adalah titik puncak bagaimana kekuasaan Israel meliputi kawasan yang luas. Itu sudah mendapatkan akses sehingga apa pun yang ada kaitannya dengan Palestina diubah dan diganti. Salah satunya adalah makam Syekh Abbad, seorang ulama muslim yang sangat dikenal, tiba-tiba raib dari sejarah. Data sejarah diganti namanya dengan nama Rabbi Asyi sampai hari ini. Artinya orang-orang Palestina sekarang tidak bisa menemukan makam Syekh Abbad lagi. Bahkan di internet juga dihapus. Di internet datanya sudah dihapus dan yang tertulis justru nama makam Rabbi Asyi. Ini bahasa Ibraninya kelihatan. Saya kira dua hal itu menjadi catatan untuk melihat sejarah bangsa-bangsa lain seperti apa. Kita bisa lihat fakta seperti ini.
Mungkin Mas Dedi ada tambahan.
Ee, kalau saya pribadi ya benar seperti yang diucapkan oleh Prof. Ali bahwa sejarah itu sangat penting bagi suatu bangsa. Itu identitas diri setiap bangsa. Ketika sejarah ini mulai hilang, dihapus pelan-pelan, maka kita akan kehilangan jati diri kita sebagai suatu bangsa. Itu. Makanya pesan saya tetap untuk para sahabat-sahabat yang segenerasi atau generasi selanjutnya: Mari kita jaga sama-sama sejarah bangsa kita ini. Karena melihat dari sejarah bangsa lain yang bagaimana mereka terbuai, melupakan menjaga sejarahnya, sehingga dihapus pelan-pelan, lama-lama mereka kehilangan jati diri.
Baiklah. Terima kasih, Ustaz Ali. Terima kasih, Mas.
Sama-sama.
Baiklah, pemirsa. Sampai di sini dulu perjumpaan kita. Dan tunggu kajian kita malam Jumat yang akan datang. Dan selalu ya, kita akan membahas hal-hal yang lagi viral, lagi banyak diperbincangkan di masyarakat. Jadi intinya kita tidak hanya berbicara soal kristologi saja, bisa ke mana-mana, asalkan itu masih dalam tahapan kajian ilmiah istilahnya. Demikian. Semoga ada manfaatnya. Dan kami mohon maaf jika ada salah kata.
Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

