Relasi Yahudi dan Islam dalam Teks dan Konteks
Acara: Ngobrol Santai Bareng Ustadz Aki
Penyelenggara: Yayasan Pembina Mualaf Attauhid
Pemateri: Dr. Menachem Ali, Dosen Filologi Universitas Airlangga, Surabaya
Tema: Relasi Yahudi dan Islam dalam Teks dan Konteks: Perspektif Kebahasaan, Keagamaan, dan Kebangsaan
Pembukaan
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kajian Ngobras Doa kali ini membahas tema besar tentang relasi antara Yahudi dan Islam dari perspektif teks dan konteks, dengan fokus pada dimensi kebahasaan, keagamaan, dan kebangsaan. Dr. Manahem Ali menekankan bahwa pembahasan ini tidak dapat dipisahkan dari kitab suci, yang menjadi landasan agama, dan bahasa sebagai mediumnya. Kajian ini menyoroti keterkaitan bahasa Semitik (Ibrani, Arab, Suryani) dan hubungannya dengan tradisi keagamaan serta identitas kebangsaan, yang berakar pada Nabi Ibrahim.
Latar Belakang Diskusi
Diskusi ini menggali hubungan antara Yahudi dan Islam melalui teks kitab suci, khususnya Al-Qur’an dan Tanakh, dengan pendekatan filologis. Dr. Ali menjelaskan bahwa istilah-istilah dalam kitab suci non-Islam, seperti Tanakh, memiliki keterkaitan semantik dengan Al-Qur’an, terutama dalam konteks nama-nama nabi dan konsep keagamaan. Misalnya, istilah Qur’an dalam tradisi Islam memiliki paralel dengan istilah Torah dalam tradisi Yahudi, yang keduanya merujuk pada kitab suci yang diterima Nabi Musa. Kajian ini juga menyinggung pentingnya memahami bahasa Ibrani dan Arab untuk mengeksplorasi konektivitas antara teks-teks suci, serta relevansinya dalam konteks kebangsaan, seperti identitas keturunan Ibrahim yang menjadi dasar narasi Israel dan umat Islam.
Inti Pembahasan: Relasi Yahudi dan Islam
1. Konteks Kebahasaan
- Rumpun Bahasa Semitik: Bahasa Ibrani, Arab, dan Suryani termasuk dalam keluarga bahasa Semitik, yang memiliki kesamaan semantik dan fonetis. Contohnya:
- Salam (Arab: Islam), Shalom (Ibrani), Shlama (Suryani) memiliki makna damai yang serupa.
- Shalat (Arab) dan Tsalot (Suryani) menunjukkan konsep ibadah yang sama.
- Kitab (Arab) dan Sefer (Ibrani) merujuk pada kitab suci.
- Bahasa Semitik memiliki akar kata yang serupa, mencerminkan keterkaitan budaya dan agama di Timur Tengah. Dr. Ali menekankan bahwa kajian linguistik diakronis (sejarah bahasa) penting untuk memahami teks suci, bukan hanya linguistik sinkronis (bahasa saat ini).
2. Konteks Keagamaan
- Paralel dalam Kitab Suci:
- Dalam Al-Qur’an, istilah Qur’an merujuk pada wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW, sementara dalam tradisi Yahudi, Torah adalah wahyu yang diterima Nabi Musa. Keduanya memiliki sifat “cahaya” (nur) sebagai petunjuk.
- Al-Qur’an (misalnya, Surah Al-Baqarah 2:87) menyebut Nabi Musa sebagai penerima kitab suci, yang dalam tradisi Islam disebut Taurat, sedangkan Yahudi menyebutnya Torah.
- Istilah ummi dalam Al-Qur’an (Surah Al-A’raf 7:157) untuk Nabi Muhammad SAW memiliki paralel dengan konsep “nabi yang tertulis” dalam Tanakh (Ulangan 18:18), menunjukkan kesinambungan kenabian.
- Tradisi qira’ah dalam Islam memungkinkan pembacaan teks suci dalam bahasa aslinya (misalnya, Ibrani untuk Taurat), yang memperkuat hubungan lintas agama.
3. Konteks Kebangsaan
- Keturunan Ibrahim: Baik Yahudi maupun Islam mengklaim sebagai keturunan Nabi Ibrahim. Dalam narasi Israel, ini tercermin dalam seruan “putra-putra Abraham” oleh Perdana Menteri Israel pertama, David Ben-Gurion. Dalam Islam, keturunan Ismail dianggap sebagai leluhur bangsa Arab.
- Identitas kebangsaan tidak dapat dipisahkan dari bahasa dan agama. Bahasa Ibrani mewakili identitas Yahudi, sementara bahasa Arab mewakili identitas Islam, namun keduanya berakar pada warisan Semitik yang sama.
4. Keterkaitan Linguistik dan Teologis
- Istilah dan Etimologi: Dr. Ali menyoroti bahwa istilah seperti Qur’an (dari akar qara’a, “membaca”) memiliki resonansi dengan Torah (dari akar yarah, “mengajar” atau “petunjuk”). Keduanya menunjukkan fungsi kitab suci sebagai pedoman.
- Dalam tradisi Yahudi, Torah disebut sebagai “cahaya” (Psalm 119:105), serupa dengan Al-Qur’an sebagai nur (Surah Al-Ma’idah 5:15).
- Bahasa Indo-Eropa (misalnya, Sanskerta, Persia, Latin) juga menunjukkan paralel dengan bahasa Semitik, seperti father (Inggris), pater (Latin), dan pidar (Persia), yang mencerminkan asal-usul linguistik yang saling terhubung.
5. Pentingnya Kajian Filologi
- Kajian filologi diakronis penting untuk memahami teks suci, karena teks tertulis adalah inti agama. Tanpa teks, agama hanya menjadi aliran kepercayaan.
- Bahasa Ibrani dan Arab harus dikuasai untuk mengeksplorasi konektivitas teks suci. Dr. Ali menyinggung bahwa pengajaran bahasa Ibrani di institusi Islam seperti IAIN masih terbatas, padahal ini krusial untuk dialog lintas agama.
- Buku karya Dr. Ali tentang bahasa Timur Tengah menunjukkan bahwa teks suci tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung melalui warisan linguistik, seperti pengaruh bahasa Persia dan Kaldea.
Penutup
Kajian ini menegaskan bahwa relasi Yahudi dan Islam tidak dapat dipisahkan dari tiga pilar: kebahasaan, keagamaan, dan kebangsaan. Bahasa Semitik (Ibrani, Arab, Suryani) menjadi jembatan untuk memahami teks suci, sementara warisan Nabi Ibrahim menyatukan identitas kebangsaan. Pendekatan filologis membuktikan bahwa istilah seperti Qur’an dan Torah memiliki kesamaan semantik dan teologis, memperkuat dialog lintas agama. Kajian ini akan dilanjutkan dengan pembahasan lebih mendalam tentang teks spesifik pada sesi berikutnya.
Ucapan Penutup: Terima kasih kepada Dr. Manahem Ali atas paparan yang mengintegrasikan linguistik dan teologi. Pekan depan, kita akan mendalami teks-teks spesifik untuk memperkuat pemahaman relasi Yahudi dan Islam. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kajian ini dapat anda simak di; https://youtu.be/gP8b2lsZZkk?si=8hXxLzAVqhRDmFI8
