Sejarah

Tuduhan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan keturunan Ismail atau bahkan tokoh fiktif

Tuduhan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan keturunan Ismail atau bahkan tokoh fiktif

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, pemirsa setia channel Graha Mualaf, bersama Edi Prayitno dan Menachem Ali Official. Seperti biasa, setiap malam Jumat kita mengadakan kajian, dan kali ini bersama Ustadz Menachem Ali. Assalamualaikum, Ustadz.

Ustadz Menachem Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Edi: Meski pekan lalu kita berjanji selesai membahas nasab, ternyata masih ada ganjalan di kalangan netizen. Banyak komentar, mulai dari yang mempertanyakan hingga emosional, bahkan ada yang menyebut Nabi Adam, Hawa, atau Musa untuk membandingkan nasab Nabi Muhammad SAW dengan Ubaidillah. Malam ini, kita fokus menuntaskan tuduhan non-Muslim bahwa nasab Nabi Muhammad SAW tidak tersambung ke Nabi Ismail AS. Apa pandangan Ustadz?

Ustadz Menachem Ali: Terima kasih, Pak Edi, dan apresiasi untuk netizen atas kritik dan komentar beragam. Membahas nasab adalah kewajiban untuk mencerdaskan umat, bukan doktrin atau fanatisme buta. Keimanan harus didukung data ilmiah, terutama menghadapi tuduhan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan keturunan Ismail atau bahkan tokoh fiktif. Kita butuh dokumen sezaman dan eksternal untuk memvalidasi, bukan hanya dokumen internal Islam.

Edi: Dokumen apa yang mendukung nasab Nabi Muhammad SAW?

Ustadz Menachem Ali: Ada dua jenis dokumen:

  1. Dokumen Internal Islam:
    • Shahih Muslim (penulis wafat 875 M/261 H) menyebut hadis: “Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, Quraisy dari Kinanah, Bani Hasyim dari Quraisy, dan aku dari Bani Hasyim.” Ini menegaskan nasab Nabi ke Ismail melalui Quraisy, tapi hanya kuat untuk internal Islam.
    • Sirah Nabawiyah (penulis wafat 151 H) mencatat nasab Nabi Muhammad SAW.
    • Jamharah Nasab Quraisy (penulis wafat 256 H) menyebut Nabi sebagai nabi yang diramalkan Musa dan Isa, mengukuhkan keberadaannya sebagai tokoh historis.
  2. Dokumen Eksternal Non-Islam:
    • Peta Claudius Ptolemaeus (100-170 M) menyebut Yatsrib (Madinah) dan suku Malik (Bani Malik), terkait nasab Nabi melalui Quraisy, 500 tahun sebelum kelahiran Nabi (571 M).
    • Homili Sofronius of Jerusalem (560-638 M), diterbitkan Harvard University Press (2020), menyebut “kaum Saracen” (keturunan Ismail), mengakui entitas historis bangsa Arab.
    • Dokumen Santo Theophanes (758-817 M), diterbitkan Harvard University Press (2018), menyebut Muhammad sebagai “pemimpin dan nabi palsu dari kaum Saracen, keturunan Ismail, melalui Nizar, Mudhar, Quraisy.” Meski menyebut “nabi palsu” (perspektif Kristen), ini mengakui Muhammad sebagai tokoh historis.
    • Doktrin Yakobi (634 M) menyebut “nabi” dari kaum Saracen, divalidasi karbon C14, mengukuhkan Nabi sebagai tokoh historis.
    • Inskripsi Sabean (abad 7-4 SM) di Yaman menyebut Bani Asad dan Ma’ad, terkait nasab Nabi melalui Adnan, ditulis dalam bahasa Arab kuno, diterjemahkan arkeolog.
    • Penelitian Axel Knauf (Jerman) tentang inskripsi Asyiria menyebut Nabayot dan Kedar, keturunan Ismail, terkait Quraisy, jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Edi: Bagaimana dengan tuduhan bahwa Nabi Adam atau Musa fiktif karena tidak ada dokumen sezaman, sebagaimana diperdebatkan dengan Ubaidillah?

Ustadz Menachem Ali: Tuduhan itu muncul dari ketidakseimbangan perbandingan. Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, atau Musa hidup di era purba, ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad SAW, saat tradisi tulis terbatas. Misalnya, Nabi Nuh terkait temuan arkeologi bahtera di Gunung Ararat (Turki), diteliti dan disimpan di Rusia, sezaman dengan kisah Nuh dalam Alquran, Kitab Kristen, Yahudi, dan Hindu (tokoh Manu dalam Srimad Bhagavatam Purana).

Namun, era Nabi Muhammad SAW lebih modern, di bawah Kekaisaran Bizantium, dengan budaya tulis maju. Dokumen seperti peta Claudius Ptolemaeus (abad 2 M) menyebut Yatsrib dan suku Malik, terkait nasab Nabi. Ini menunjukkan nasab Nabi ke Ismail terverifikasi oleh dokumen internal (Alquran, hadis) dan eksternal (non-Islam).

Sebaliknya, Ubaidillah (Imam Ubaidillah dalam tradisi Ba’alawi) tidak memiliki dokumen sezaman atau eksternal yang kuat. Tidak ada catatan primer tentang hijrahnya ke Yaman atau keberadaannya sebagai tokoh historis. Membandingkan Ubaidillah dengan Nabi Adam atau Musa tidak tepat, karena era Ubaidillah (pascakekaisaran Abbasiyah) seharusnya memiliki dokumen lebih lengkap, tapi tidak ada.

Edi: Bagaimana menjawab netizen yang emosional atau mempertanyakan ini?

Ustadz Menachem Ali: Kita harus berpikir cerdas, bukan emosional atau berdasar doktrin. Alquran dan hadis cukup untuk internal, tapi untuk dialog dengan non-Muslim, kita butuh dokumen eksternal yang valid, seperti inskripsi Sabean, dokumen Theophanes, atau penelitian Axel Knauf. Tuduhan bahwa Nabi Muhammad SAW fiktif atau tidak tersambung ke Ismail muncul dari kurangnya literasi. Kajian ini bukan untuk menyerang, termasuk Ba’alawi, tapi untuk mencerdaskan umat. Jika dokumen Ubaidillah tidak ada, cukup diimani secara internal, tapi jangan dipaksakan sebagai fakta sejarah tanpa bukti. Islam Nabi Muhammad SAW adalah rahmat untuk semua, sehingga nasabnya harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Edi: Sebagai penutup, ada informasi tentang program Yayasan Pembina Mualaf.

Ustadz Menachem Ali: Masjid di Jombang hampir selesai, tinggal pintu dan jendela. Dana saat ini habis, sehingga pekerjaan terhenti. Kami mengajak donatur untuk menyumbang melalui rekening Bank Syariah Indonesia, nomor 11188 9971, atas nama Yayasan Pembina Mualaf. Berapapun sumbangannya, Rp10.000, Rp20.000, atau lebih, akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk pembangunan masjid. Terima kasih kepada donatur, semoga Allah memberi kesehatan dan rezeki berlimpah.

Edi: Terima kasih, Ustadz. Kepada netizen, kajian ini bukan untuk menyerang, tapi mengajak berpikir ilmiah berdasarkan dokumen. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Link; https://www.youtube.com/watch?v=IDXn_i1BTe0

Silahkan bagikan di :