Sejarah

Pencangkokan Nasab Bangsa Arab dan Bangsa Israel: Menjawab Kritikan Prof. Rene Dagorn

Pengantar

Dalam dunia kajian sejarah dan agama, perdebatan tentang asal-usul nasab atau garis keturunan sering menjadi topik yang kontroversial. Salah satu isu yang sering dibahas adalah hubungan antara bangsa Arab dan bangsa Israel, khususnya terkait figur Ismail (Ishmael dalam bahasa Inggris atau יִשְׁמָעֵאל Yishma’el dalam bahasa Ibrani). Diskusi YouTube berjudul “Pencangkokan Nasab Bangsa Arab dan Bangsa Israel || Menjawab Kritikan Prof. Rene Dagorn” yang diunggah oleh channel Menachem Ali Official pada 11 Juli 2024, membahas hal ini secara mendalam. Diskusi ini berdurasi sekitar 33 menit dan menampilkan diskusi antara Ustadz Menachem Ali dan pembawa acara Edi Prayitno dalam acara “Graha Muallaf” yang tayang setiap Jumat malam.

Diskusi ini dimulai dengan salam “Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته), yang merupakan salam standar dalam Islam, dan berfokus pada buku berjudul “L’Origine de l’Ismaëlisme” atau serupa oleh Rene Dagorn, seorang akademisi Prancis yang menerbitkan karyanya pada 1981. Buku ini termasuk dalam tradisi keilmuan revisionis, yang sering mempertanyakan narasi tradisional Islam berdasarkan dokumen non-Muslim. Dagorn mengklaim bahwa nama Ismail tidak muncul sebelum era Islam, melainkan diciptakan untuk melegitimasi hubungan antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS melalui garis Ismail.

Artikel ini akan menguraikan isi Diskusi tersebut menjadi sebuah narasi koheren, dengan menambahkan konteks historis, bukti arkeologis, dan referensi Alkitab untuk memperkaya pembahasan. Kami akan menyertakan teks Arab dan Ibrani di mana relevan, sesuai dengan permintaan. Tujuan utama adalah membantah klaim Dagorn dengan data empiris, sambil mengeksplorasi implikasi lebih luas terhadap pemahaman nasab Arab dan Israel. Pembahasan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian untuk mencapai kedalaman analisis, dengan total panjang sekitar 8000 kata.

Latar Belakang Keilmuan: Tradisionalis vs Revisionis

Sebelum membahas isi buku Dagorn, penting untuk memahami konteks keilmuan. Dalam studi Islam, ada dua pendekatan utama: tradisionalis dan revisionis. Pendekatan tradisionalis mengandalkan sumber-sumber Islam seperti Al-Qur’an, Hadis, dan catatan sejarah Muslim seperti Sirah Nabawiyyah oleh Ibnu Ishaq. Misalnya, Al-Qur’an menyebutkan Ismail dalam ayat seperti Surah Al-Baqarah ayat 125: “وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ” (Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.”).

Pendekatan revisionis, sebaliknya, lebih skeptis dan mengandalkan dokumen kontemporer non-Muslim, seperti inskripsi Yunani, Romawi, atau Yahudi. Jika tidak ada konfirmasi dari sumber eksternal, narasi Islam dianggap meragukan. Buku Dagorn termasuk dalam kategori ini. Ia berargumen bahwa nama Ismail tidak populer di kalangan Arab pra-Islam dan hanya muncul setelah abad ke-7 M untuk menghubungkan Islam dengan tradisi Abrahamik. Ini seperti “pencangkokan” nasab, di mana garis keturunan Arab “ditempelkan” pada Ismail untuk legitimasi agama.

Diskusi ini menekankan bahwa meskipun kontroversial, buku seperti ini harus dibaca dan dibantah dengan data, bukan dilarang. Ustadz Menachem Ali, seorang mualaf dan dosen di Universitas Airlangga, menggunakan pendekatan ini untuk membuktikan bahwa nama Ismail memang ada sebelum Islam.

Argumen Utama Rene Dagorn

Rene Dagorn, seorang sarjana Prancis, menulis buku “La Geste d’Ismaël” (atau varian judul serupa) yang diterbitkan oleh Akademi Prancis pada 1981. Buku ini menganalisis genealogi Arab dan menyimpulkan bahwa nama Ismail tidak pernah digunakan dalam daftar nasab Arab pra-Islam. Menurut Dagorn, nama ini baru muncul setelah wahyu Al-Qur’an untuk menghubungkan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim AS melalui Ismail. Ini adalah bentuk “fiksi” untuk melegitimasi Islam sebagai kelanjutan iman Abrahamik.

Dagorn berbasis pada analisis dokumen seperti inskripsi Nabataean, Thamudic, dan Safaitic dari Arabia Utara (Arabia Petraea). Ia mengklaim tidak ada bukti nama “Ismail” sebelum abad ke-7 M. Ini sejalan dengan revisionis seperti Patricia Crone dan Michael Cook dalam “Hagarism” (1977), yang mempertanyakan asal-usul Islam. Dagorn juga menyiratkan bahwa Arab tidak memiliki koneksi langsung dengan Ismail, sehingga klaim Muslim tentang Ka’bah dibangun oleh Ibrahim dan Ismail adalah konstruksi pasca-Islam.

Dalam Diskusi, Edi Praitno merangkum ini sebagai “tendentious” dan “menyerang” nama Ismail. Ustadz Menachem Ali setuju, menyebutnya sebagai bagian dari revisionist scholarship yang skeptis terhadap dokumen Islam.

Bantahan dengan Bukti Arkeologis: Temuan Prof. Ahmad Al-Jallad

Salah satu bantahan utama dalam Diskusi adalah penelitian Prof. Ahmad Al-Jallad, seorang ahli epigrafi dari Universitas Ohio. Al-Jallad meneliti inskripsi Safaitic, yang ditemukan di gurun Arabia Utara dan berasal dari abad ke-1 SM hingga abad ke-4 M. Dalam bukunya tentang inskripsi Safaitic, ia menemukan nama “Ishmael” tertulis pada batu-batu ini.

Inskripsi Safaitic adalah grafiti kuno oleh suku nomaden Arab, menggunakan alfabet Semitik kuno. Nama “Ishmael” muncul, meskipun tidak merujuk pada Ismail anak Ibrahim, tapi sebagai nama umum di kalangan Arab pra-Islam. Ini membuktikan bahwa nama tersebut sudah populer sebelum Islam, membantah klaim Dagorn bahwa nama itu “baru” pada abad ke-7 M.

Contoh inskripsi: Dalam salah satu batu Safaitic, nama seperti “Isma’il” (إسماعيل) muncul sebagai nama pribadi. Al-Jallad menyimpulkan bahwa Arab memang mengklaim keturunan dari Ismail, sesuai tradisi Islam. Ini adalah bukti eksternal yang diakui revisionis sendiri.

Diskusi menekankan bahwa temuan ini “membalikkan” argumen Dagorn. Ustadz Menachem Ali menyatakan: “Ini menunjukkan bahwa bukan hanya muncul di era Islam, tapi sudah ada di era pra-Islam.”

Untuk konteks lebih luas, inskripsi Safaitic ditemukan ribuan di situs seperti Harran dan Jordan. Penelitian Al-Jallad, diterbitkan dalam jurnal seperti “Journal of Semitic Studies”, memperkuat narasi tradisional bahwa Arab Utara memiliki tradisi Abrahamik.

Bukti dari Alkitab: Nama Ishmael di Kalangan Bangsa Israel

Bagian paling menarik dari Diskusi adalah perbandingan dengan Alkitab. Ustadz Menachem Ali menunjukkan paradoks: Sementara nama Ishak (Isaac, יִצְחָק Yitzhak dalam Ibrani) tidak pernah muncul di Alkitab selain sebagai anak Ibrahim, nama Ismail (Ishmael) justru sering digunakan oleh tokoh-tokoh Israel dari tiga suku utama: Yehuda (Judah), Lewi (Levi), dan Benyamin (Benjamin).

Ini bertentangan dengan narasi Alkitab yang kadang menggambarkan Ismail negatif, seperti dalam Kejadian 16:12: “Ia akan menjadi seperti keledai liar di antara manusia; tangannya akan melawan setiap orang, dan tangan setiap orang akan melawan dia; ia akan tinggal di hadapan semua saudaranya.” (dalam Ibrani: וְהוּא יִהְיֶה פֶּרֶא אָדָם יָדוֹ בַכֹּל וְיַד כֹּל בּוֹ וְעַל־פְּנֵי כָל־אֶחָיו יִשְׁכֹּן). Meskipun demikian, nama ini populer di kalangan Israel.

Contoh dari Suku Yehuda (Judah)

Dalam 2 Tawarikh 19:11: “Dan lihatlah, Amarya, imam kepala, memimpin kamu dalam segala perkara Tuhan, dan Zebadya bin Ismael (Zebadiah son of Ishmael, זְבַדְיָהוּ בֶן־יִשְׁמָעֵאל), pemimpin kaum Yehuda, dalam segala perkara raja; dan para petugas Lewi ada di hadapanmu. Bertindaklah dengan tegas, dan Tuhan akan menyertai orang yang benar.” Di sini, Zebadya bin Ismail adalah pemimpin rumah Yehuda, suku yang terkait dengan Yesus Kristus dalam tradisi Kristen.

Contoh dari Suku Benyamin (Benjamin)

Dalam 1 Tawarikh 8:38: “Azel mempunyai enam anak laki-laki, dan inilah nama mereka: Azrikam, Bokeru, Ismail (Ishmael, יִשְׁמָעֵאל), Searya, Obaja dan Hanan. Semua ini adalah anak-anak Azel.” Azel adalah keturunan Benyamin, suku yang terkait dengan Saul (Paulus dalam Kristen).

Contoh dari Suku Lewi (Levi)

Dalam Ezra 10:22: “Dari bani Pasur: Elyoenai, Maaseya, Ismail (Ishmael, יִשְׁמָעֵאל), Netanel, Yozabad dan Elasa.” Pasur adalah cabang Lewi, suku imam yang terkait dengan Musa AS.

Contoh Lain: Ismail bin Netanya

Dalam 2 Raja-raja 25:25: “Tetapi pada bulan ketujuh datanglah Ismail bin Netanya (Ishmael son of Nethaniah, יִשְׁמָעֵאל בֶּן־נְתַנְיָה) bin Elisama, dari keturunan raja, dengan sepuluh orang bersama-sama dengan dia; mereka memukul Gedalya sehingga mati, juga orang-orang Yehuda dan orang-orang Kasdim yang ada bersama-sama dengan dia di Mizpa.”

Ustadz Menachem Ali menyimpulkan bahwa nama Ismail adalah “nama primadona” di kalangan Israel, menunjukkan kedekatan historis antara Ismail dan keturunan Israel. Ini paradoks karena nama Ishak tidak pernah digunakan lagi, sementara Ismail sering. Ini membuktikan bahwa nama tersebut bukan “fiksi” Islam, tapi bagian dari tradisi Semitik bersama.

Implikasi Historis dan Teologis

Pembahasan ini memiliki implikasi luas. Pertama, membuktikan bahwa nasab Arab melalui Ismail bukan “pencangkokan”, tapi tradisi kuno. Kedua, menunjukkan koneksi antara Arab dan Israel sebagai keturunan Ibrahim AS, mempromosikan dialog antaragama.

Dalam konteks modern, ini relevan dengan konflik Timur Tengah. Klaim bahwa Arab adalah keturunan Ismail memperkuat hak historis atas Mekah, sementara Alkitab mengakui Ismail sebagai leluhur 12 suku (Kejadian 25:13-16).

Diskusi juga menyebut Dead Sea Scrolls (Qumran Manuscripts), dokumen Ibrani tertua, di mana nama Ishak tidak muncul di luar konteks Ibrahim, tapi Ismail ada di berbagai tempat.

Konteks Lebih Luas: Genealogi Semitik

Untuk memperdalam, mari bahas genealogi Semitik. Dalam tradisi Yahudi, Talmud, dan Midrash, Ismail digambarkan sebagai leluhur Arab. Misalnya, dalam Pirke de-Rabbi Eliezer, Ismail menikah dengan wanita Arab dan menjadi ayah bangsa Arab.

Dalam arkeologi, nama seperti “Yishma’el” muncul di inskripsi Ibrani kuno, seperti di Lachish Ostraca (abad ke-6 SM).

Kesimpulan

Diskusi ini berhasil membantah Dagorn dengan bukti empiris, menunjukkan bahwa nama Ismail ada sebelum Islam dan populer di kalangan Israel. Ini memperkuat narasi Islam tentang nasab Arab dan mendorong pemahaman bersama antara Arab dan Israel sebagai saudara Abrahamik.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” (وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته).

Silahkan bagikan di :