Berebut Klaim Keunggulan Nasab Keturunan Nabi
Pembawa Acara (Ustadz Menachem Ali): Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Pada petang ini, kita berkumpul usai salat Magrib berjamaah di Masjid Ar-Rayyan untuk mentadaburi ayat-ayat Allah. Semoga langkah kita menuju masjid ini mendapat maghfirah dan rahmah dari Allah SWT. Saudara-saudara yang saya hormati, Al-Quran adalah solusi segala sesuatu. Tema kita malam ini kontroversial namun menarik: keunggulan nasab putra Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishak. Kita mulai dari Al-Quran, lalu membandingkannya dengan Taurat, Injil, dan dokumen eksternal seperti Naskah Laut Mati dan kitab Jawa Miladhun Nabi.
Bukti Internal: Al-Quran
Mari kita tadaburi Surah Ibrahim (14):39:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ
Alhamdulillahilladzi wahaba li ‘ala al-kibari Isma‘ila wa Ishaqa, inna rabbi lasami‘ud du‘a.
Terjemah: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Tuhanku Maha Mendengar doa.”
Ayat ini mencatat syukur Nabi Ibrahim atas anugerah dua putra: Ismail disebut pertama, lalu Ishak. Ini gaya bahasa Al-Quran yang sastrawi, menunjukkan urutan kelahiran. Ismail lahir dari Hajar, istri kedua, sebagai putra pertama; Ishak lahir dari Sarah, istri pertama, sebagai putra kedua. Ini menunjukkan keseimbangan (egaliter): istri pertama mendapat putra kedua, istri kedua mendapat putra pertama, dari bapak yang sama, Ibrahim.
Lihat juga Surah As-Saffat (37):100-102:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100)
Rabbihab li minas-salihin.
Terjemah: “Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku keturunan yang saleh.”
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101)
Fabashsharnahu bighulamin halim.
Terjemah: “Maka Kami beri kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar.”
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ (102)
Falam-ma balagha ma‘ahu as-sa‘ya qala ya bunayya inni ara fi al-manami anni adhbahuk.
Terjemah: “Ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.’”
Konteksnya jelas: anak yang dikorbankan adalah Ismail, putra pertama, sebelum Ishak lahir. Nama Ismail tak disebut langsung, tapi ayat 112 menyebut: وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (Wa bashsharnahu bi-Ishaqa nabiyyan minas-salihin), “Dan Kami beri kabar gembira tentang kelahiran Ishak, seorang nabi dari kalangan orang saleh.” Logikanya, jika Ishak baru disebut di ayat 112, maka anak di ayat 101-102 adalah Ismail.
Di Surah Al-Baqarah (2):127, 129:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ (127)
Wa idh yarfa‘u Ibrahim al-qawa‘ida minal-bayti wa Isma‘il.
Terjemah: “Dan ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan fondasi Baitullah…”
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ (129)
Rabbana wab‘ath fihim rasulan minhum.
Terjemah: “Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.”
Doa Ibrahim bersama Ismail ini terwujud melalui Nabi Muhammad SAW, keturunan Ismail, sebagai nabi pamungkas. Ini menegaskan keunggulan nasab Ismail.
Bukti Eksternal: Taurat dan Naskah Laut Mati
Bandingkan dengan Taurat, 1 Tawarikh 1:28:
בְּנֵי אַבְרָהָם יִצְחָק וְיִשְׁמָעֵאל
B’nei Avraham Yitzchak v’Yishma‘el.
Terjemah: “Anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismail.”
Urutan berbeda: Ishak disebut pertama, lalu Ismail. Namun, hanya keduanya disebut sebagai zera’ (benih) Abraham, bukan anak-anak dari Keturah (Midian, dll.). Dokumen eksternal tertua, Naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls, abad ke-3 SM), divalidasi dengan karbon-14, juga menyebut: “Anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismail.” Selisih 10 abad dengan Al-Quran (abad ke-7 M), tapi narasi global sama: Ismail dan Ishak adalah putra spesial.
Di Kejadian 18:7:
וְאֶל־הַבָּקָר רָץ אַבְרָהָם וַיִּקַּח בֶּן־בָּקָר רַךְ וָטוֹב וַיִּתֵּן אֶל־הַנַּעַר וַיְמַהֵר לַעֲשׂוֹת אֹתוֹ
V’el-habbakar ratz Avraham vayyikkach ben-bakar rakh vatov vayyitten el-hanna‘ar vaymaher la‘asot oto.
Terjemah: “Lalu Abraham berlari ke kawanan lembunya, mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik, dan memberikannya kepada seorang pemuda, lalu pemuda itu segera mengolahnya.”
Dalam tradisi Yahudi (Targum, Midrash Rashi), hanna‘ar (pemuda) adalah Ismail, usia 13 tahun, bukan hamba. Terjemahan Arab kuno Saadia Gaon (abad ke-10 M) menyebut ghulam (putra), sesuai Al-Quran. Namun, Alkitab Indonesia TB (1974) menerjemahkan hanna‘ar sebagai “bujang”, dan TB2 (2023) sebagai “hamba”—pergeseran yang merendahkan status Ismail.
Soal pengorbanan, Kejadian 22:2:
קַח־נָא אֶת־בִּנְךָ אֶת־יְחִידְךָ אֲשֶׁר־אָהַבְתָּ אֶת־יִצְחָק
Qach-na et-bincha et-yechidecha asher-ahavta et-Yitzchak.
Terjemah: “Ambillah anakmu, anakmu satu-satunya yang engkau kasihi, yaitu Ishak…”
Berbeda dengan Al-Quran, Taurat menyebut Ishak sebagai anak yang dikorbankan. Perbedaan ini mencerminkan ashabiyyah (fanatisme golongan) dalam redaksi Yahudi untuk mengunggulkan Ishak, padahal konteks menunjukkan Ismail lahir lebih dulu.
Bukti Eksternal: Injil dan Dokumen Lain
Dalam Injil, Galatia 4:22-23 (Perjanjian Baru):
“Sebab ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, satu dari hamba perempuan dan satu dari perempuan merdeka. Tetapi anak dari hamba perempuan itu dilahirkan menurut daging, sedang anak dari perempuan merdeka itu menurut janji.”
Di sini, Ismail (dari Hajar, “hamba”) dan Ishak (dari Sarah, “merdeka”) disebut, tapi narasi cenderung mengunggulkan Ishak. Namun, status Hajar sebagai “hamba” (Ibrani: shiphchah, bukan amah) berbeda dengan budak biasa. Tradisi Yahudi (Dead Sea Scrolls) menyebut Hajar sebagai putri Firaun, diberikan kepada Abraham setelah mukjizat di Mesir.
Kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Ishaq (w. 150 H), diterjemahkan ke Belanda (Het Leven van Mohammed), menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai keturunan Ismail melalui Quraisy: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hashim, dst., hingga Ismail bin Ibrahim. Ensiklopedia Gereja Koptik (Al-Mawsu‘ah al-Kanisia, sebelum Islam) juga menyebut Quraisy sebagai keturunan Ismail, menguatkan bukti eksternal.
Dokumen kontemporer Nabi Muhammad SAW, seperti surat kepada Heraclius (Kaisar Byzantium, 6 H/628 M), tersimpan di Museum Topkapi, Turki, dan Doctrina Jacobi (634 M, bahasa Yunani) menyebut keberadaan Nabi Muhammad SAW hanya dua tahun setelah wafatnya (632 M). Ini bukti eksternal kuat.
Pertanyaan Jamaah
Jamaah: Apakah Kitab Miladhun Nabi bisa jadi validasi eksternal? Lalu, doa Ibrahim di Al-Baqarah 127, apakah termasuk dalam mushaf Ibnu Mas‘ud?
Ustadz Main Hakim Ali: Pertanyaan kedua dulu. Al-Quran diturunkan dalam beberapa dialek (qira’at sab‘ah), seperti qira’at Hafs, Warsh, Qalun, atau Ibnu Katsir. Nama “Ibrahim” boleh dibaca “Ibraham” sesuai qira’at, misalnya dalam mushaf Ibnu Mas‘ud. Ini hadiah dari Allah agar sesuai dialek suku Arab. Nama “Ibrahim” (Arab) dan “Abraham” (Ibrani) terhubung melalui linguistik (dirasah lisaniyah). Contoh lain: “Musa” boleh dibaca “Musi” atau “Jibril” jadi “Jibrail”. Ini tak mengurangi makna, malah memperkaya.
Pertanyaan pertama, Kitab Miladhun Nabi (kemungkinan Nurayn, “Dua Cahaya”) bukan teks Arab, melainkan Jawa, menyebut Aji Saka (atau Aji Soko) sebagai nenek moyang Jawa, dikaitkan dengan Ismail. Dokumen serupa ada di tradisi Sunda dan Madura, tapi perlu validasi eksternal lebih lanjut. Kita harus duduk bersama, riset, bukan saling menafikan. Islam menghapus kasta, sebagaimana Nabi SAW membebaskan Bilal bin Rabah. Nasab Hasan dan Husain (Al-Hasani, Al-Husaini) ke Nabi Muhammad SAW juga perlu bukti eksternal, bukan sekadar keyakinan.
Penutup
Al-Quran menegaskan keseimbangan: dari Ishak lahir nabi-nabi, dari Ismail lahir nabi pamungkas, Muhammad SAW. Bukti internal (Al-Quran) dan eksternal (Taurat, Injil, Naskah Laut Mati, Sirah Ibnu Ishaq, dokumen Byzantium) saling menguatkan. Islam menghapus kasta, menolak ashabiyyah. Mari kita gunakan nalar, sebagaimana Al-Quran memerintahkan: أَفَلَا تَعْقِلُونَ (Afala ta‘qilun, “Apakah kalian tidak berakal?”). Semoga kajian ini bermanfaat. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilayk. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

