Yerusalem: Kota Damai yang Dirancang Tuhan untuk Tiga Agama Besar
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yerusalem, kota suci yang menjadi pusat peradaban bagi Yahudi, Kristen, dan Islam, sering kali menjadi sumber konflik hingga hari ini. Namun, di balik perebutan wilayah ini, terdapat grand design ilahi yang menekankan kedamaian. Nama Yerusalem sendiri berasal dari bahasa Ibrani “Yerusalaim” (יְרוּשָׁלַ͏יִם), yang secara harfiah berarti “kota damai” atau “rumah kedamaian”. Istilah ini mirip dengan bahasa Arab “Darussalam” (دار السلام), yang berarti “rumah kedamaian”. Mengapa kota yang dirancang untuk damai justru menjadi ajang konflik? Artikel ini membedah identitas Yerusalem berdasarkan Al-Qur’an, Alkitab, dan tradisi Yahudi, serta sejarah asal-usulnya.
Grand Design Kedamaian dari Tuhan
Konflik Palestina-Israel bukanlah yang pertama; ia telah berulang kali menghabiskan nyawa, energi, dan dana. Namun, kitab suci tiga agama Abrahamik menunjukkan bahwa Yerusalem adalah prototipe kedamaian di bumi, mencerminkan surga. Dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah:
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
“Demi buah tin dan zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri yang aman ini (Yerusalem).” (QS. At-Tin [95]: 1-3)
Ulama tafsir sepakat bahwa “al-balad al-amin” merujuk pada Mekah, negeri aman. Sementara Yerusalem disebut sebagai kiblat pertama umat Islam (Masjidil Aqsa), Mekah adalah Baitul Haram. Keduanya adalah “negeri aman” dalam grand design Tuhan.
Dalam QS. Al-An’am [6]: 127:
لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Bagi mereka Darussalam (rumah kedamaian) di sisi Tuhan mereka, dan Dia adalah pelindung mereka disebabkan amal saleh yang mereka kerjakan.”
Darussalam di sini adalah surga, diwarisi oleh orang-orang saleh. Hal serupa tertulis dalam QS. Al-Anbiya [21]: 105:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Dan sungguh, telah Kami tulis dalam Zabur setelah tertulis di Lauh Mahfuzh bahwa bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
Zabur adalah kitab Nabi Daud (David). Dalam Mazmur (Psalms) 37:29 bahasa Ibrani:
צַדִּיקִים יִירְשׁוּ אָרֶץ וְיִשְׁכְּנוּ לָעַד עָלֶיהָ
“Orang-orang benar akan mewarisi bumi (eretz) dan tinggal di sana selamanya.”
Orang saleh dari ketiga agama mewarisi bumi damai, bukan konflik.
Asal-Usul Yerusalem: Dari Shem bin Nuh hingga Sulaiman
Tradisi Yahudi mengakui Raja Sulaiman (Shlomo, שלמה) – yang berarti “raja damai” – membangun Yerusalem secara megah. Namun, pendiri awalnya adalah Shem (Shem bin Nuh), anak Nabi Nuh. Dalam Kejadian 14:18:
וּמַלְכִּי־צֶדֶק מֶלֶךְ שָׁלֵם הוֹצִיא לֶחֶם וָיָיִן וְהוּא כֹהֵן לְאֵל עֶלְיוֹן
“Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia adalah imam Allah Yang Mahatinggi.”
Melkisedek adalah gelar Shem, “Raja Salem” (Darussalam dalam targum Aram: מַלְכִּי צֶדֶק מֶלֶךְ דָּר אַסָּלָם). Shem bertemu Abraham (Ibrahim), nenek moyang Bani Israil (Ishak) dan Bani Ismail (Arab). Yerusalem milik bersama, bukan eksklusif satu kelompok.
Yesus (Nabi Isa) dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:9-10):
אָבִינוּ שֶׁבַּשָּמַיִם יִתְקַדֵּשׁ שְׁמֶךָ תָּבֹא מַלְכוּתֶךָ יְהִי רְצוֹנְךָ כַּאֲשֶׁר בַּשָּמַיִם גַּם בָּאָרֶץ
“Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”
Surga Darussalam “difotokopi” ke bumi sebagai Yerusalem.
Konflik Modern: Klaim Eksklusif Yahudi Ashkenazi
Sebelum imigran Eropa (Yahudi Ashkenazi dari keturunan Yafet, bukan Yakub), Palestina harmonis di bawah Turki Utsmani. Yahudi Palestina (Mizrahi), Muslim Arab, dan Kristen Arab hidup berdampingan. Ashkenazi mengklaim Yerusalem sebagai milik “Israel” berdasarkan Daud-Sulaiman, tapi nasab mereka tidak nyambung ke 12 suku Bani Israil.
Yesus meramalkan kehancuran (Matius 24:1-2):
הִנֵּה הַר הַבַּיִת… אָמֵן אֹמֵר לָכֶם לֹא תִשָּׁאֵר אֶבֶן עַל אֶבֶן
“Tidak ada satu batu pun yang dibiarkan tertumpuk; semuanya akan diruntuhkan.”
Terjadi tahun 70 M oleh Kaisar Titus, menyisakan Tembok Ratapan. Bangunan kedua dibangun Herodes; Khalifah Umar membersihkan sampah dan membangun tanda masjid. Dome of the Rock (Qubbah as-Sakhrah) dari era Umayyah menandai Mi’raj Nabi Muhammad, dengan Batu Pondasi (Even HaShtiya) sebagai pijakan.
Yerusalem Timur adalah kota lama, situs suci bersama. Ekonomi pariwisata mengalir ke Israel, bukan Palestina. PBB mengakui Yerusalem sebagai wilayah bersama, tapi Zionis Ashkenazi menguasai, menggeser pribumi: Yahudi Mizrahi, Muslim, dan Kristen Palestina.
Kesimpulan: Yerusalem Milik Bersama Pribumi
Yerusalem bukan milik eksklusif Israel atau Ashkenazi, tapi warisan Shem bin Nuh untuk keturunan Ismail dan Ishak. Konflik bukan agama, tapi politik budaya dan bisnis. Seperti Bhinneka Tunggal Ika dari Kakawin Sutasoma (pupuh 139:3):
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Artinya: Berbeda-beda agama Buddha dan Siwa tetap satu, berbeda tapi esa, tak ada dharma yang mendua. Yerusalem harus dikelola pribumi bersama untuk damai. Semoga konflik berakhir, dan Yerusalem menjadi Darussalam sejati.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

