Aqidah

Peringatan keras untuk Ponpes Az Zaitun!

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kita bertemu lagi di channel Graha Mualaf. Saat ini ada Ustadz Main Hakim Ali. Ustadz Ali, bagaimana kabarnya? Alhamdulillah, sehat. Pada malam ini, seperti biasa setiap malam Jumat, kita akan membahas hal yang sedang viral, yaitu Pondok Pesantren Al Zaytun. Pondok ini pernah disebut karena Ibrahim yang mengajar di sana dan akhirnya murtad. Baru-baru ini, saat salat Ied di sana, ada jarak renggang padahal sudah tidak ada Covid. Kursi disiapkan dan di masjid ada doa yang dipimpin oleh orang Kristen, bahkan mereka masuk masjid dengan sepatu. Ada juga video yang menunjukkan bercampurnya laki-laki dan perempuan, dan ada seorang Kristen yang duduk di depan salat.

Dia mengadakan kebaktian di gereja dan melakukan beberapa hal aneh, termasuk rencana shalat Jumat dengan khotib perempuan. Rencana ini diungkapkan di depan pegawai Departemen Agama. Dia juga menyebutkan mazhab yang diadopsi Soekarno, yang menunjukkan bahwa dia pernah bertemu Soekarno saat kecil. Dia mempertanyakan mengapa harus mengikuti masa lalu yang hanya diketahui melalui tulisan. Terakhir, dia melakukan puji-pujian yang menjadi perbincangan ramai. Diskusi malam ini bertujuan untuk memberi pencerahan kepada semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Kita juga membahas kegaduhan yang ditimbulkan oleh seorang guru dari pondok pesantren Az Zaitun yang meragukan kenabian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Karena bukan dari kalangan Bani Israil, para nabi bisa berasal dari kalangan non Bani Israil, bahkan Bani Ismail. Pembicaraan kali ini berfokus pada Syekh Panji Gumilang dari Pondok Pesantren Az Zaitun. Ada hal penting dari pengantar Pak Edi yang menunjukkan bahwa sesuatu yang asing dapat menimbulkan kegaduhan. Contohnya adalah upaya merencanakan perempuan sebagai khatib Jumat, hal yang tidak pernah diajarkan Nabi dan generasi sebelumnya. Ini dianggap menyalahi konsensus yang ada. Dalam tradisi Kristen, khatib selalu laki-laki, sehingga jika perempuan memberikan khotbah, itu bertentangan dengan aturan yang ada.

Makanya kemudian muncul yang namanya Protestan karena protes terhadap yang sudah ada. Panji Gumilang ini bisa jadi menciptakan Islam protes, tergantung apakah pemerintah ikut campur atau tidak. Pesantren al-Zaytun, yang telah lama berdiri, memiliki banyak murid, bahkan puluhan ribu. Pesantren ini unik karena memiliki pemikiran yang dianggap radikal, yang terkait dengan NII. Mereka percaya bahwa saat ini tidak ada kewajiban untuk salat, dianggap sebagai masa periode Makkah, belum masuk periode Madinah. Saya hanya memberikan informasi secara umum. Keanehan muncul karena pesantren ini berbeda dengan yang lain. Mereka mungkin bermazhab Soekarno dan memiliki pemikiran yang progresif, bisa jadi ini adalah pembaharuan dalam Islam, yang saya sebut sebagai Islam Protestan.

Kedepannya, ini tergantung pada Majelis Ulama Indonesia apakah mereka bisa berdialog dan bertindak bijaksana. Ada klaim dari LSM karena saya tidak memiliki wewenang, hanya Majelis Ulama yang harus berkomunikasi intensif mengenai hal ini. Tahun lalu, model shalat Idul Fitri terlihat campur antara laki-laki dan perempuan, yang merupakan sesuatu yang tidak biasa. Di Timur Tengah, tradisi memisahkan laki-laki dan perempuan saat beribadah, termasuk dalam agama Yahudi dan Kristen. Dalam konteks ini, jika masalah ini tidak dibicarakan serius, bisa jadi akan muncul Islam Protestan.

Masalahnya adalah apakah kita bisa menerima kehadiran Islam Protestan, meskipun istilah itu hanya sekadar istilah. Saya mengambil istilah ini karena memiliki pengalaman membaca tentang kelahiran kekristenan Protestan, yang tidak mau mengikuti yang sudah mapan. Misalnya, apakah hanya laki-laki yang boleh berkhotbah? Dalam gerakan protestanisme, muncul pendeta perempuan, sedangkan di kalangan Katolik tidak ada pengkhotbah perempuan. Ini menunjukkan adanya pembatasan berdasarkan tradisi.

Ada istilah Islam Protestan untuk memberi gambaran kepada orang-orang. Jika ini berlanjut, bisa menjadi berbahaya. Kita ingat soal kasus Bapak Panji Gumilang dan Saifudin Ibrahim yang murtad karena ada kunjungan dari gereja lain dan membagikan Alkitab. Hal ini menunjukkan adanya pencampuran antara Islam dan Kristen di pondok pesantren. Yang mengkhawatirkan, salah satu guru juga terpengaruh.

Fenomena sekarang adalah era keterbukaan tanpa batas. Toleransi menjadi kebablasan dan tanpa kontrol. Kita perlu kembali ke inti permasalahan karena toleransi yang dipahami secara radikal bisa membawa masalah. Saya ingat gerakan Gafatar yang mencampurkan semua agama dan mengklaim sebagai nabi. Namun, saya tidak akan berpanjang lebar membahas itu, yang penting adalah memahami konteks yang kita bicarakan sekarang.

Tapi yang saya soroti adalah Gafatar itu ada kemiripan gerakannya dengan Pondok Pesantren Azzaitun. Saya tidak tahu apakah memang ada orang-orang yang punya kepentingan di Bali itu semua sehingga Pesantren Al-Zaytun itu sepertinya tidak bisa tersentuh hukum. Saya tidak tahu, tapi yang jelas itulah fakta riil, seakan-akan sulit untuk masuk dan berdialog dengan mereka. Bahkan, pondok pesantren ini semakin tinggi makamnya, semakin tinggi derajatnya dan tidak tersentuh. Semakin aneh-aneh lagi, semakin aneh-aneh untuk mewacanakan di ruang publik, bahkan menyentuh hal-hal yang sifatnya sakral menjadi desakralisasi biasa. Kita tahu bahwa tempat ibadah sangat disakralkan oleh umat tertentu.

Saya ingat apa yang dikatakan oleh Kyai Hasyim Muzadi, sepertinya beliau pernah berkata, “Ada apa sholawat kok di dalam gereja, memang tidak ada tempat lain? ” Tapi coba sekarang, faktanya ada orang yang sholawat di gerejanya. Banyak berarti yang dikhawatirkan Kyai Haji Muzadi itu menjadi faktorial atas nama toleransi. Begitu juga, apakah mungkin orang menyanyi lagu gereja di masjid? Karena yang seharusnya memiliki nilai sakral menjadi desakralisasi.

Belakangan ini, yang hangat adalah saat Panji Gumilang di satu Suro tahun lalu memperingati satu Suro dan mengundang kelompok agama lain. Untuk menghormati agama lain, dia mengajak semua yang hadir menyanyi lagu. Ada yang mengatakan itu artinya “Kami membawa. ” Hal ini seharusnya bisa disikapi dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika itu di masjid, seharusnya tidak dinodai dengan sesuatu yang membuat kegaduhan. Saya amati bacaan Panji Gumilang, sepertinya beliau tidak bisa bahasa Ibrani, tetapi berusaha semaksimal mungkin.

Kalau itu belajar, sih tidak ada masalah, tetapi mendaratkan lagu pujian khas gereja di dalam masjid ternyata kurang tepat. Ini dibahas di depan para santri dan asatid, serta dalam komunitas lintas agama. Lagu pujian gerejawi itu terdapat dalam teks Mazmur, terutama yang ditulis oleh Daud. Saya bicara begini bukan untuk memberikan contoh, tetapi untuk menunjukkan bahwa lagu tersebut sebetulnya berisi makna yang lebih dalam, seperti saat dinyanyikan di gereja dalam acara kebaktian. Misalnya, arti harfiahnya adalah bahwa kami datang membawa berita damai.

Dalam konteks teologis, lagu tersebut mengacu pada kelahiran Kristus yang membawa damai sejahtera. Ketika dinyanyikan oleh kita, itu bisa dilihat sebagai pengakuan terhadap kelahiran Kristus sebagai Putra Allah. Ini bukan sekedar nyanyian biasa, melainkan mengandung makna teologis.

Apakah kita pernah mendengar saudara non-Muslim menyanyikan sholawat di gereja? Sepertinya tidak ada. Ini menunjukkan bahwa saudara non-Muslim itu lebih cerdas dibandingkan dengan saudara yang mengaku Muslim tetapi menyanyikan lagu Kristen. Jadi, secara harfiah, maknanya adalah bahwa kami datang membawa damai sejahtera. Di samping itu, saudara kita yang Yahudi juga memiliki lagu pujian dalam ibadah mereka yang berbeda dengan tradisi Nasrani, meskipun sama-sama dalam bahasa Ibrani.

Jadi sahabat, jadi sahabat itu dimulai hari Jumat sore sebelum magrib. Lagu itu memiliki arti luar biasa jika kita paham bahasa Ibrani, dengan pendekatan bahasa tanpa makna teologis. “Assalamualaikum” dalam arti harfiahnya berarti damai sejahtera bagi kalian semua. Malaikat yang membawa damai sejahtera adalah yang diutus oleh Yang Maha Tinggi. Ini juga adalah salam yang digunakan orang Israel hingga sekarang. Dalam bahasa Ibrani, “Shalom malikhim” juga berarti damai sejahtera bagi kalian semua. Jawabannya dalam bahasa Arab adalah “Waalaikumsalam”, dengan makna yang sama antara Ibrani dan Arab.

Namun, bahasa tidak netral. Pak Bambang Nursena mengatakan bahwa bahasa tidak punya agama, tetapi memiliki identitas. Bahasa itu adalah penanda identitas. Orang Indonesia berbicara bahasa Indonesia, sementara di Malaysia, mereka berbicara bahasa Melayu. Keduanya hampir sama, hanya berbeda label. Di Malaysia disebut bahasa Malaysia, sedangkan di Indonesia disebut bahasa Indonesia. Contohnya, “perbedaan” dalam bahasa Indonesia dan “perbedaan” dalam bahasa Melayu, yang penanda identitas berbeda.

Di Timur Tengah, Pak Bambang Nursena mengatakan umat Islam mengucapkan “Assalamualaikum” setelah kekristenan muncul di sana. Namun, di Timur Tengah, khususnya di Mesir, orang Kristen biasanya mengucapkan “Salamun lakum. ” Jika seseorang berkata “Salamun lakum”, orang tahu itu pasti orang Kristen, tetapi jika mengucapkan “Assalamualaikum”, itu pasti Muslim.

Oh berarti beda ya salamnya. Secara bahasa, sama-sama bahasa Arab, tapi artinya tetap sama. Namun, diksinya jadi pembeda. Jadi, kalau “Assalamualaikum,” pasti jawabannya “Waalaikumussalam” untuk Muslim. Sedangkan Nasrani akan berkata “salamullah. ” Artinya tetap sama, tapi ada perbedaan seperti Malaysia dan Indonesia. Jadi, saat ada orang seperti Pak Edi dan tiba-tiba ada yang berkata “kerana,” itu jelas penanda identitas. Bahasa itu tidak netral; ada penanda identitas kebangsaan Malaysia dan Indonesia serta penanda identitas keagamaan. Bicara mengenai “Assalamualaikum,” meskipun sama-sama Arab, berbeda agama.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan bahasa Ibrani? Misalnya, “shalom alaihim. ” Di dalam nyanyian Ibrani, itu merujuk pada malaikat. Dalam tradisi Yahudi, orang Nasrani juga mengatakan “Shadow Malik,” dan kadang menggunakan istilah lain. Apakah ada Islam di Israel? Kenapa mereka menggunakan Alquran terjemahan bahasa Ibrani? Contohnya dalam surah Ar-Ra’d, ayat 24, terdapat ungkapan “salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu; maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” Itu adalah terjemahan dari frase “Salamun alaikum. ” Jadi, ini membahas terjemahan Alquran dalam bahasa Ibrani, dan ini hanya persoalan bahasa, bukan perbedaan teologis.

Yang tadi hwm tapi dengan sikap ujian kepada Tuhan dari dia ada kaitannya dengan agama tertentu dan itu menyalahi dari toleransi yang sebenarnya. Syariatnya iya, tapi kalau dari sisi kebahasaan tidak ada problem. Jadi ke bahasa karena istilah Assalamualaikum dalam Alquran terjemahannya pasti Assalamualaikum. Ibadah orang Kristen kan puji-pujian juga dinyanyikan oleh orang Islam. Kalau hanya sekedar kajian, ya mungkin Bapak Panji Gumilang itu membahas kajian soal salam. Di tempat-tempat kajian di kelas mungkin tidak masalah. Seperti kita ini kan pengkajian, tidak masalah kajian kebahasaan. Apa hubungannya antara Assalamualaikum dengan shalom alaihim? Tapi kalau sudah ujian digemakan di dalam masjid, ini contoh supaya gampang para pemirsa bisa memahami maksud kita. Kita kalau salat pakai bahasa apa-apa dalam salat di manapun saudara kita berada di dunia. Salat bahasanya Arab.

Misalnya ada orang kemudian karena semangatnya tinggi, progresifnya tinggi, dia mau menciptakan Islam Protestan salat. Kemudian dia pakai apa, Allahu akbar, lalu berkata dalam bahasa Ibrani. Kira-kira kalau itu yang dibaca, padahal artinya sama, misalnya Ibrani kalau dijawab seperti itu. Apa bedanya antara Maliki yaumiddin dengan milik sama? Iya betul, secara bahasa sama. Tapi kalau sudah masuk ke ruang sakral ibadah, beda persoalannya. Jadi kadang-kadang orang-orang kesulitan membedakan ranah sakral atau ranah bahasa. Nggak ada masalah mau ditulis di sini Salamun alaikum dalam bahasa Ibrani. Quran bahasa Ibrani ditulis tidak ada masalah. Tapi kalau sudah masuk dalam tatanan ibadah, kita tidak mungkin membaca Alquran dengan terjemahan bahasa Ibrani. Iya kan? Bahasa Indonesia aja masalah. Dulu kalau nggak salah ada, yang sholat pakai Bahasa Indonesia itu pun masalah. Karena menyalahi dari sesuatu yang sudah disepakati bersama. Konsensusus diantara semua generasi ulama terdahulu.

Jika orang itu mau cerdas, cerdasnya itu jangan nanggung. Kalau mau cerdas, cerdasnya jangan nanggung. Harus betul-betul tahu mana yang sakral, mana yang profan, mana yang ini hanya sekedar bahasa, mana yang ini masuk ranah ibadah. Itu harus bisa dibedakan. Jadi kalau begitu Pak Edi misalnya tanya kepada saya, apa yang dilakukan oleh Syekh Zaitun? Apakah itu hanya persoalan bahasa? Oh tidak, itu sudah masuk tatanan ibadah. Kalau sudah masuk tatanan ibadah, beda kesimpulannya. Baik, saudara-saudaraku sekalian, sudah dijelaskan panjang lebar tadi soal masalah yang lagi rame Pak Ali dibahas dan Alhamdulillah semoga ini bisa mencerahkan pemirsa semua.

Kita harus paham bahwa bahasa tidak netral dan merupakan penanda identitas, baik kebangsaan maupun keagamaan. Ini penting agar tidak salah dalam memahami bahasa. Misalnya, salam “Assalamu’alaikum” dianggap sebagai salam umat Islam atau orang Arab. Jika seseorang tidak bisa membedakan makna ini, mereka mungkin akan keliru dengan menganggap “Assalamu’alaikum” hanya sebagai salam orang Arab, baik untuk Muslim maupun non-Muslim. Ini adalah kesimpulan yang tidak tepat. Meskipun “Assalamu’alaikum” digunakan oleh orang Arab, baik Muslim maupun Kristen, faktanya di Timur Tengah menunjukkan perbedaan. Salam yang digunakan oleh Muslim dan Kristen berbeda, seperti “Assalamu’alaikum” dan “Sala Mun lakum”.

Penting untuk memahami perbedaan ini agar tidak salah interpretasi. Mudah-mudahan kajian malam ini dapat memberikan pencerahan dan diharapkan dapat didengar oleh saudara-saudara kita di Pesantren Pondok Zaitun. Saya bersedia datang ke pondok pesantren Az Zaitun untuk dialog mengenai kajian bahasa ini. Jika ada panitia yang mendengarkan, mereka dapat mengundang Ustad Manaqim Ali untuk menjelaskan lebih lanjut tentang hubungan antara Islam dan ajaran sebelumnya. Kita akan membahas ini dari sisi kebahasaan dan teologi.

Saudara-saudaraku sekalian yang mau memanfaatkan shodaqohnya bisa dikirim ke rekening bank syariah Indonesia Jawa Timur

Silahkan anda bisa kirim ke rekening:

Bank SYARIAH INDONESIA 

► Kode bank: (451) No Rek: 111-888-9971 

► an. YPM At Tauhid Jawa Timur ,

► Bukti transfer dapat dikonfirmasikan ke :

HP/WA +6281235871100 (24 Jam)

Uang anda Istiqomah kami jalankan dengan benar dan khusus untuk pembangunan wilayah Jawa Timur dan pondok pesantren. Mohon dukungan gerakan ini dan bagi saudara-saudaraku yang sudah berdonasi, uang bapak-bapak dan ibu-ibu sudah kami jalankan. Namun, pembangunan masjid terhenti selama 8 bulan. Oleh karena itu, kami mengetuk hati Bapak Ibu sekalian untuk berdonasi kembali supaya program YPM Jawa Timur bisa segera terealisasi dan masjid dapat dibuka. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :