Uncategorized

Perdebatan Siapa yang Dikorbankan oleh Nabi Ibrahim: Ishak atau Ismail?

Pada malam Jumat atau Sabtu, seperti biasa, channel Graha Mualaf dan Ali Official menyajikan diskusi mendalam tentang topik keagamaan yang relevan. Kali ini, pasca-Idul Adha, pembahasan difokuskan pada pertanyaan klasik yang sering muncul di kalangan apologet Muslim dan non-Muslim: Siapakah yang sebenarnya dikorbankan oleh Nabi Ibrahim? Ishak atau Ismail? Diskusi ini dipandu oleh Ustaz Ali, yang menjelaskan perspektif dari berbagai agama Ibrahimiyah—Yahudi, Kristen, dan Islam—serta menyoroti perbandingan teks suci dan konteks historis. Pembahasan ini menekankan pentingnya dialog antaragama untuk memahami peristiwa agung ini.

Latar Belakang Perdebatan dalam Tradisi Islam

Dalam Al-Qur’an, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim termaktub hanya sekali, yaitu di Surah As-Shaffat (سورة الصافات) ayat 102-113. Ini merupakan contoh dari hapax legomena (ἅπαξ λεγόμενα), istilah Yunani yang merujuk pada peristiwa yang disebutkan hanya satu kali dalam teks suci, serta terkait dengan etiologi (αἰτιολογία), yaitu penjelasan asal-usul suatu peristiwa.

Ayat tersebut menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim melihat dalam mimpi perintah untuk mengorbankan putranya yang telah mencapai usia baligh (بالغ). Dalam teks Arab: “يَا بُنَيَّ” (Ya bunayya), yang berarti “Wahai anakku yang amat aku cintai”. Putra tersebut menjawab: “يَا أَبَتِ” (Ya abati), “Wahai ayahku yang amat aku cintai, lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu”. Ungkapan ini mengandung tiga makna: anak laki-laki, yang amat dicintai, dan satu-satunya.

Namun, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama putra tersebut secara eksplisit. Hal ini memicu perdebatan di kalangan ulama Islam sejak generasi awal. Pendapat terbagi dua:

  • Pendapat bahwa yang dikorbankan adalah Ismail: Didukung oleh ulama seperti Sufyan ats-Tsauri (wafat 160 H) dalam tafsirnya, serta sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar, dan Abu Thufail. Dari generasi tabi’in: Sa’id bin Musayyib, Sa’id bin Jubair, dan Hasan al-Basri.
  • Pendapat bahwa yang dikorbankan adalah Ishak: Didukung oleh Muqatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Umar bin Khattab, dan Ka’ab al-Akhbar (seorang Yahudi yang masuk Islam). Pendapat ini mungkin dipengaruhi oleh tradisi Yahudi.

Meskipun nama diperdebatkan, lokasi pengorbanan disepakati oleh umat Islam: di kawasan Mina, dekat Makkah, Saudi Arabia. Ini terkait dengan ritual Haji dan Idul Adha. Dokumen awal seperti tafsir Muqatil dan riwayat hadis menyebutkan tanduk domba pengganti Ismail (bukan Ishak) pernah disimpan di Ka’bah sebelum terbakar.

Ustaz Ali menekankan bahwa peristiwa ini terjadi sebelum kelahiran Ishak, sebagaimana di Surah Ibrahim ayat 39: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ” (Alhamdulillahilladzi wahaba li ‘ala al-kibari Isma’ila wa Ishaqa), yang menyebut Ismail lebih dulu, sesuai urutan kelahiran.

Perspektif Yahudi dan Kristen: Kesepakatan Nama, Perbedaan Lokasi

Dalam Kitab Perjanjian Lama (Tanakh atau Alkitab Kristen), kisah ini tercantum di Kejadian (בראשית) pasal 22. Teks Ibrani: “קַח-נָא אֶת-בִּנְךָ אֶת-יְחִידְךָ אֲשֶׁר-אָהַבְתָּ אֶת-יִצְחָק” (Qach-na et-binkha et-yechidkha asher-ahavta et-Yitzchaq), “Ambillah anakmu yang tunggal itu yang engkau kasihi, yakni Ishak”.

Di sini, nama disebutkan secara eksplisit: Ishak. Namun, lokasi pengorbanan menjadi sumber perbedaan:

  • Tradisi Yahudi: Di Bukit Moria (מוריה), dekat Yerusalem (Bukit Zion).
  • Tradisi Samaria: Di Bukit Moreh (מורה) atau Gerizim (גריזים), di Nablus, Palestina Utara.

Ini menyebabkan praktik kurban hewan hingga kini dilakukan di lokasi berbeda. Menariknya, teks menunjukkan Ishak tidak tahu dirinya akan dikorbankan, berbeda dengan Al-Qur’an di mana ada komunikasi terbuka antara ayah dan anak.

Usia Nabi Ibrahim saat kelahiran anak-anaknya: Ismail lahir saat usia 86 tahun (Kejadian 16:16), Ishak saat 100 tahun (Kejadian 21:5). Ini menimbulkan pertanyaan: Mengapa Ishak disebut “anak tunggal” jika Ismail lahir lebih dulu? Tafsir Kristen: “Tunggal” berarti anak perjanjian atau dari istri sah (Sarah), bukan dari Hagar.

Di 1 Tawarikh (דברי הימים א) pasal 1 ayat 28: “בְּנֵי אַבְרָהָם יִצְחָק וְיִשְׁמָעֵאל” (Bene Avraham Yitzchaq ve-Yishma’el), Ishak disebut lebih dulu, yang diinterpretasikan sebagai urutan kemuliaan nasab (keturunan Bani Israil dari Ishak, bangsa Arab dari Ismail), bukan urutan kelahiran.

Perbandingan Teks Suci: Kesamaan dan Perbedaan

Antara Al-Qur’an dan Alkitab, ada kesamaan: Anak laki-laki, tunggal, dan dicintai. Namun, perbedaan mencolok:

  • Komunikasi: Di Al-Qur’an, anak tahu dan pasrah. Di Alkitab, Ishak bertanya tentang domba, menunjukkan ketidaktahuan.
  • Dramatisasi: Al-Qur’an lebih menekankan ketaatan mutual; Alkitab fokus pada ujian iman Abraham.

Ustaz Ali juga membahas tuduhan terhadap Ismail sebagai “keledai liar” (Kejadian 16:12). Teks Ibrani Yahudi: “פֶּרֶא אָדָם” (pere adam), sering diterjemahkan “keledai liar”. Namun, versi Samaria (paleo-Ibrani, כתב עברי): “פָּרָא אָדָם” (para adam), berarti “manusia yang subur/produktif”. Ini menunjukkan perbedaan huruf (alef vs. he) yang memengaruhi makna, dan kisah Alkitab sebenarnya menunjukkan kerukunan antara Ismail dan Ishak (mereka bersama menguburkan Abraham).

Hagar, ibu Ismail, dalam dokumen Yahudi disebut “mishpat” (משפט, mitra keluarga) dan putri Firaun, bukan budak, menjelaskan keturunannya menjadi 12 raja.

Kaitan dengan Tradisi Yunani: Kisah Paralel

Kisah pengorbanan bukan eksklusif agama Semitik. Dalam mitologi Yunani (tradisi Helenis, seperti Epik Troya), Raja Agamemnon mengorbankan putrinya, Iphigenia (Ἰφιγένεια), seorang parthenos (παρθένος, gadis/perawan), untuk menenangkan Dewi Artemis (Ἄρτεμις). Ia diganti dengan seekor rusa, bukan domba. Ini mirip: Pengorbanan manusia diganti binatang atas perintah dewa/dewi.

Perbandingan ini menunjukkan tradisi pengorbanan manusia umum di Timur Tengah dan Mediterania kuno, meski dianggap mitos oleh agama Abrahamik. Siapa yang menjiplak siapa? Tergantung perspektif, tapi penting menghindari bahasa tendensius dan fokus pada dokumen historis.

Kesimpulan: Menuju Dialog Antaragama

Perdebatan Ishak vs. Ismail menunjukkan plus-minus masing-masing tradisi: Islam sepakat lokasi (Mina), tapi nama diperdebatkan; Yahudi/Kristen sepakat nama (Ishak), tapi lokasi berbeda. Yang pasti, bukan manusia yang dikorbankan, melainkan domba—simbol ketaatan tertinggi.

Ustaz Ali menyerukan duduk bersama penganut agama Ibrahimiyah untuk membahas, tanpa kebencian. Perbedaan ada sejak sahabat Nabi, tapi tidak menimbulkan pertengkaran. Usia pengorbanan sekitar 12-14 tahun (usia baligh/bar mitzvah), sebelum Ishak lahir, memperkuat pendapat Ismail.

Akhirnya, kisah ini mengajarkan tauhid: Cinta kepada Tuhan melebihi segalanya. Bagi yang ingin mendukung Graha Mualaf, donasi ke rekening BSI 1118889971 atas nama YPM Attauhid Jawa Timur untuk pembangunan masjid.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :