AqidahSejarah

Relasi Yahudi dan Islam dalam Teks dan Konteks

Sebagai penulis yang terlibat dalam pembinaan spiritual di Yayasan Pembina Muallaf At Tauhid (YPMA) Jawa Timur, kami sering kali bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar dari para muallaf dan umat Islam yang baru saja memeluk agama ini. YPMA, sebagai lembaga yang berdedikasi untuk membina muallaf dan memperkuat pemahaman umat terhadap ajaran Islam, selalu menekankan pentingnya dialog antaragama. Kami ingin menjelaskan bahwa relasi antara Yahudi dan Islam bukanlah sesuatu yang asing atau konfliktual semata, melainkan sebuah jalinan historis yang kaya akan makna. Apakah Anda pernah bertanya-tanya, mengapa istilah-istilah dalam Al-Qur’an terdengar begitu familiar dengan bahasa Ibrani? Atau, bagaimana kedua agama ini berakar dari sumber yang sama, yaitu Nabi Ibrahim? Pertanyaan-pertanyaan ini sering menggugah kami untuk menyelami lebih dalam, dan inilah yang ingin kami bagikan dalam artikel ini.

Tantangan Transportasi Pengetahuan Antaragama

Menurut penulis, jika kami diizinkan membahas tema besar seperti relasi Yahudi dan Islam, kami harus mulai dari dasar yang sederhana namun esensial. Bayangkan Anda sedang melakukan perjalanan panjang; transportasi yang tepat adalah kuncinya. Begitu pula dengan pemahaman agamakami harus menerima bahwa semua agama dimulai dari konsep kesempurnaan Tuhan, tapi bagaimana kita menghubungkannya dengan bahasa dan budaya manusia? Sebelum masuk ke materi utama, izinkan kami bertanya: Apakah Anda sadar bahwa bahasa Ibrani dan Arab, meskipun berbeda, memiliki kesamaan semantik yang mengejutkan? Ini bukan kebetulan, melainkan bukti dari sumber yang sama.

Kami sebagai penulis ingin menekankan bahwa kitab suci non-Islam, seperti Taurat, justru memberikan penjelasan tambahan yang melengkapi pemahaman kita. Misalnya, dalam teks klasik Ibrani, istilah-istilah seperti “shalom” (damai) mirip dengan “salam” dalam bahasa Arab. Bahkan, dalam konteks ilmiah, nama-nama nabi seperti Musa disebutkan dengan cara yang konsisten. Apakah ini berarti semua berasal dari akar yang sama? Jawabannya, menurut kami, adalah yadan ini menjadi pintu masuk untuk memahami relasi yang lebih dalam.

 Konteks Kebahasaan: Rumpun Semitik sebagai Jembatan

Sekarang, mari kita masuk ke pembahasan inti. Pagi iniatau kapan pun Anda membaca artikel inikami ingin bicara mengenai relasi Yahudi dan Islam dalam teks dan konteks. Menurut penulis, konteks ini tidak bisa dipisahkan menjadi tiga aspek: kebahasaan, keagamaan, dan kebangsaan. Pertama, dari sisi kebahasaan, bahasa Arab dan Ibrani termasuk dalam rumpun Semitik, bersama dengan Suryani. Ini seperti keluarga besar di Timur Tengah. Contohnya, kata “salam” dalam Arab, “shalom” dalam Ibrani, dan “shlama” dalam Suryaniall menyiratkan damai. Begitu pula dengan “shalat” (sholat) yang mirip dengan istilah doa dalam bahasa-bahasa tersebut.

Kami ingin menjelaskan bahwa ini bukan sekadar kesamaan kata, tapi juga makna semantik. Di Indonesia, kita sering membandingkannya dengan rumpun Austronesia: orang Jawa menyebut kaki sebagai “sikil,” sementara di Bali menjadi “sikil” juga, meski dengan variasi. Apakah ini mengingatkan Anda pada bagaimana bahasa Indo-Eropaseperti Sanskerta, Persia, dan Inggrisberbagi akar kata seperti “father” (ayah) yang menjadi “pater” dalam Latin atau “pita” dalam Sanskerta? Pertanyaan yang menggugah: Apakah semua bahasa dunia berasal dari sumber tunggal? Para linguis masih berdebat, tapi bukti rumpun bahasa menunjukkan konektivitas yang luar biasa.

Dalam YPMA Jawa Timur, kami sering menggunakan pendekatan ini untuk membina muallaf. Banyak dari mereka datang dengan latar belakang beragam, dan kami menunjukkan bahwa bahasa bukanlah penghalang, melainkan jembatan. Misalnya, istilah “Qur’an” dalam Islam mirip dengan “Qara” dalam tradisi Yahudi, yang berarti “membaca” atau “menyerukan.” Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan teks independen, tapi bagian dari warisan bersama.

 Konteks Keagamaan: Dari Taurat hingga Al-Qur’an

Berpindah ke konteks keagamaan, kami sebagai penulis yakin bahwa relasi ini berakar dari Nabi Ibrahim. Itulah mengapa Perdana Menteri Israel pertama, David Ben-Gurion, menyebut bangsa Yahudi dan Arab sebagai “putra-putra Ibrahim.” Dalam Al-Qur’an, Musa disebut sebagai penerima Taurat, yang dalam bahasa Ibrani disebut “Torah” (artinya “pengajaran” atau “cahaya”). Menurut penulis, ini adalah pengembangan dari tradisi yang samaAl-Qur’an sebagai penyempurna.

Apakah Anda pernah bertanya mengapa dalam Al-Qur’an muncul istilah-istilah seperti “Yahudi” atau “Nasrani”? Ini karena konteksnya saling terkait. Dalam tradisi Islam, ada qira’at (bacaan) yang membolehkan membaca teks Ibrani untuk memahami lebih dalam. Kami ingin menjelaskan bahwa mempelajari bahasa Ibrani bukan hanya untuk akademisi, tapi juga untuk umat biasa. Sayangnya, di banyak institusi seperti IAIN, pengajaran bahasa Ibrani masih embrio. Di YPMA, kami mendorong muallaf untuk mengeksplorasi ini sebagai bagian dari pembinaan, karena bahasa adalah medianya Al-Qur’an.

 Konteks Kebangsaan: Dari Abraham hingga Hari Ini

Akhirnya, konteks kebangsaan tidak bisa diabaikan. Relasi ini bukan hanya soal teks, tapi juga politik dan sejarah. Kami sebagai penulis melihat ini sebagai peluang untuk pengetahuan bersama. Apakah mungkin membangun perdamaian tanpa memahami akar bersama? Menurut kami, yadengan mulai dari dialog seperti ini.

Di YPMA Jawa Timur, kami tidak hanya membina muallaf secara spiritual, tapi juga membekali mereka dengan pemahaman lintas agama. Ini membantu mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa istilah “hijrah” dalam Islam mirip dengan “emigrasi” dalam tradisi Yahudi? Jawabannya ada dalam teks bersama.

 Kesimpulan: Dua Sisi Mata Uang yang Tak Terpisahkan

Sebagai penutup, menurut penulis, agama dan bahasa adalah dua sisi mata uang yang sama. Tanpa memahami bahasa, kita tak bisa mendalami teks suci. Kami ingin menjelaskan bahwa relasi Yahudi dan Islam adalah warisan yang kaya, bukan konflik. Di YPMA Jawa Timur, kami terus membina umat dengan pendekatan ini, mengajak semua untuk bertanya: Apakah kita siap membuka pintu dialog ini? Mari mulai dari sana, karena pengetahuan adalah cahaya yang menyatukan.

Jika Anda tertarik bergabung atau mendukung YPMA, kunjungi kami di Jawa Timur untuk sesi pembinaan lebih lanjut. Terima kasih telah membacasemoga artikel ini menggugah pemikiran Anda!

Silahkan bagikan di :