Kesejajaran Torah dan Al-Qur’an: Kajian Linguistik dan Teologis
Pendahuluan
Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kajian kali ini disampaikan dalam program Graha Mualaf Channel, membahas tema Kesejajaran Torah dan Al-Qur’an. Diskusi ini bertujuan untuk mengeksplorasi kesamaan antara Torah (Kitab Taurat dalam tradisi Yahudi) dan Al-Qur’an (kitab suci umat Islam) dari perspektif linguistik, teologis, dan historis. Dengan pendekatan akademik, kajian ini menyoroti aspek kebahasaan, struktur narasi, dan konsep teologis yang menghubungkan kedua kitab suci ini, sekaligus menepis anggapan bahwa perbedaan bahasa atau tradisi menjadikan keduanya terpisah. Kajian ini juga menekankan pentingnya memahami teks asli untuk menghindari kesalahan interpretasi akibat terjemahan. Sebagai bagian dari misi Graha Mualaf, kami juga mengajak pemirsa untuk berkontribusi dalam pembangunan Pondok Pesantren untuk mualaf di Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, melalui zakat, infak, sedekah, atau wakaf.
1. Pengumuman Pembangunan Pondok Pesantren
Sebelum masuk ke pembahasan utama, kami ingin menyampaikan pengumuman penting. Graha Mualaf berencana membangun Pondok Pesantren untuk para mualaf di Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, dengan luas tanah enam hektar yang ditawarkan seharga Rp240.000 per meter persegi. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mewujudkan cita-cita mulia ini, yang tidak dapat terlaksana tanpa kerja sama dan keikhlasan hati para dermawan. Kontribusi berupa zakat, infak, sedekah, atau wakaf dapat disalurkan melalui rekening Bank Mandiri Syariah (kode bank: 451) nomor 11-88889-995 atas nama Yayasan Pembinaan Mualaf At-Tauhid. Bukti transfer dapat dikirimkan ke nomor 0812-3280-2080. Semoga amal jariyah ini menjadi jalan kebaikan bagi kita semua.
2. Kesejajaran Linguistik: Bahasa Semit dan Ekspresi Bahasa
Torah dan Al-Qur’an berasal dari akar bahasa Semit, yaitu bahasa Ibrani (untuk Torah) dan bahasa Arab (untuk Al-Qur’an). Kedua bahasa ini memiliki kesamaan dalam struktur, kosakata, dan gaya ekspresi, yang mencerminkan identitas Semit yang khas. Berikut adalah beberapa poin kesejajaran linguistik:
a. Akar Kata dan Kosakata
Banyak kata dalam bahasa Ibrani dan Arab memiliki akar yang sama. Misalnya:
- Elohim (Ibrani) dan Allah (Arab): Kedua istilah ini merujuk pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam tradisi Yahudi, Elohim adalah salah satu nama Tuhan yang menunjukkan otoritas ilahi, sebagaimana Allah dalam Al-Qur’an. Perbedaan ejaan (Elohim dengan atau tanpa huruf waw dalam ortografi Ibrani) adalah variasi ortografis, bukan perubahan makna.
- Kerubim (Ibrani) dan Qaribun (Arab): Dalam Torah, kerubim merujuk pada malaikat yang dekat dengan Tuhan (Kejadian 3:24). Dalam bahasa Arab, qaribun memiliki akar yang sama, menunjukkan kedekatan. Istilah ini menunjukkan kesejajaran konsep malaikat dalam kedua tradisi.
- Pere (Ibrani) dan Fara (Arab): Dalam Kejadian (16:12), Ismail disebut pere adam (keledai liar), yang sering disalahartikan sebagai konotasi negatif. Dalam bahasa Arab, akar fara merujuk pada kebebasan atau kekuatan, mirip dengan makna pere dalam konteks Ibrani, yaitu seseorang yang hidup bebas di padang gurun.
b. Gaya Pengulangan (Repetition)
Salah satu ciri khas bahasa Semit adalah penggunaan pengulangan untuk penegasan. Dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Rahman (55) menggunakan frasa fabiayyi ala irobbikuma tukazziban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) secara berulang untuk menegaskan kebesaran Allah. Contoh serupa ditemukan dalam Torah, seperti dalam Kejadian 1:
- Wayehi erev wayehi boker (Jadilah petang dan jadilah pagi), diulang untuk setiap hari penciptaan, menegaskan ritme ilahi dalam proses penciptaan.
- Dalam Mazmur (Zabur) 18, frasa seperti kolam hasbuki (Tuhan adalah penolongku) diulang untuk memperkuat pesan spiritual.
Gaya pengulangan ini tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru (New Testament), khususnya dalam teks Yunani seperti Septuaginta, yang menunjukkan perbedaan tradisi linguistik antara teks Semit (Torah dan Al-Qur’an) dan teks Helenistik (Perjanjian Baru).
c. Ortografi dan Transmisi Teks
Perbedaan ortografi (cara penulisan) antara teks Ibrani kuno dan modern juga menjadi perhatian. Misalnya:
- Dalam tradisi Yahudi, Torah ditulis dalam aksara Ktav Ashuri (aksara Asyur), yang diadopsi setelah pembuangan ke Babilonia. Namun, dalam tradisi Samaria, aksara Paleo-Ibrani (lebih kuno) digunakan. Perbedaan ini mirip dengan perubahan ejaan dalam bahasa Indonesia, seperti dari Van Ophuijsen ke EYD.
- Dalam Al-Qur’an, variasi dialek (seperti dialek Yaman dengan pengucapan ghain atau dialek Mesir dengan pengucapan jim sebagai g) mencerminkan keragaman artikulasi, tetapi tidak mengubah makna teks.
Pemahaman terhadap teks asli dalam bahasa Ibrani dan Arab sangat penting untuk menghindari kesalahan terjemahan. Terjemahan berulang (dari teks asli ke bahasa lain, lalu diterjemahkan lagi) sering kali menyimpang dari makna asli, seperti yang terjadi pada beberapa terjemahan Perjanjian Baru.
3. Kesejajaran Teologis: Konsep Wahyu dan Monoteisme
Torah dan Al-Qur’an memiliki kesejajaran dalam konsep wahyu dan monoteisme, yang menjadi inti ajaran keduanya.
a. Konsep Wahyu (Unzila dan Torah)
Dalam Al-Qur’an, istilah unzila (diturunkan) digunakan untuk menggambarkan proses pewahyuan, baik untuk Al-Qur’an maupun kitab-kitab sebelumnya, seperti Torah dan Injil (Al-Baqarah 2:4):
“Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelum kamu.”
Istilah unzila ini sejajar dengan konsep Torah dalam tradisi Yahudi, yang berarti “instruksi” atau “hukum” yang diturunkan Tuhan. Dalam Kejadian, Torah tidak hanya merujuk pada Lima Kitab Musa (Pentateukh), tetapi juga instruksi ilahi yang diberikan sejak zaman Adam, Nuh, dan Ibrahim. Misalnya, Nuh menerima instruksi tentang hewan tahor (suci) dan lo tahor (tidak suci) dalam Kejadian 7, yang menunjukkan bahwa konsep Torah sudah ada sebelum Musa.
Dalam tradisi Islam, Al-Qur’an menyebut semua nabi sebagai muslim dalam arti berpasrah diri kepada Tuhan (Al-Baqarah 2:132-133). Demikian pula, dalam tradisi Yahudi, tokoh seperti Nuh dan Ibrahim dianggap menerima Torah dalam makna generik (instruksi ilahi), meskipun tidak dalam bentuk tertulis seperti pada zaman Musa.
b. Monoteisme dan Nama Tuhan
Kedua kitab suci menegaskan monoteisme secara tegas. Dalam Torah, Elohim atau YHWH (disebut Hashem dalam tradisi Yahudi untuk menghindari pengucapan nama suci) adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak boleh digambarkan dalam bentuk fisik (Keluaran 20:4). Dalam Al-Qur’an, konsep tauhid menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang tidak berwujud (Al-Ikhlas 112:1-4).
Istilah Hashem (Ibrani) dan Allah (Arab) adalah ekspresi linguistik dari konsep yang sama, hanya berbeda dalam artikulasi bahasa. Tradisi Yahudi dan Islam sama-sama melarang pembuatan patung atau gambar Tuhan, menegaskan bahwa Tuhan adalah entitas transenden.
c. Hukum dan Instruksi
Torah berisi 613 mitzvot (perintah dan larangan), yang terdiri dari 248 perintah dan 365 larangan, sebagaimana dijelaskan dalam tradisi rabinik seperti Mishnah dan Talmud. Dalam Al-Qur’an, konsep halal dan haram sejajar dengan tahor (suci) dan lo tahor (tidak suci) dalam Torah. Misalnya, hukum makanan dalam Kejadian (7:2) mirip dengan aturan makanan halal dalam Al-Qur’an (Al-Maidah 5:4). Kesejajaran ini menunjukkan bahwa kedua kitab suci memiliki panduan moral dan hukum yang serupa.
4. Perbedaan dengan Perjanjian Baru
Berbeda dengan Torah dan Al-Qur’an, Perjanjian Baru (terutama Injil dalam tradisi Kristen) tidak menunjukkan gaya linguistik Semit yang kuat. Dalam teks Yunani (Septuaginta atau Textus Receptus), tidak ditemukan pola pengulangan khas Semit seperti dalam Torah atau Al-Qur’an. Selain itu, Perjanjian Baru lebih bersifat naratif dan biografis (menceritakan kehidupan Yesus), bukan wahyu langsung seperti Al-Qur’an atau instruksi ilahi seperti Torah.
Dalam perspektif Islam, Injil adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Isa (Yesus), bukan kumpulan tulisan seperti Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Al-Qur’an menyebut Injil sebagai kabar gembira (bushra), sebagaimana Torah disebut huda (petunjuk). Namun, dalam Perjanjian Baru, istilah Injil (dari bahasa Yunani euangelion, berita baik) sering kali merujuk pada pengajaran Yesus, bukan kitab tertulis. Misalnya, dalam Markus 1:14-15:
“Sesudah Yohanes ditangkap, datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus menyebarkan kabar gembira, tetapi tidak ada indikasi bahwa ia membawa kitab tertulis. Dalam tradisi Islam, Injil yang asli dianggap hilang (lost in history), dan Perjanjian Baru dianggap sebagai riwayat hidup (biography), bukan wahyu langsung.
5. Transmisi Teks dan Tradisi Samaria
Dalam tradisi Yahudi, Torah ditransmisikan melalui dua jalur:
- Torah Shebichtav (Torah tertulis): Lima Kitab Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan).
- Torah Shebe’al Peh (Torah lisan): Tradisi lisan yang kemudian ditulis dalam Mishnah dan Talmud.
Tradisi Samaria memiliki versi Torah sendiri, yang menggunakan aksara Paleo-Ibrani dan sedikit berbeda dalam penulisan (misalnya, ejaan Elohim dengan atau tanpa waw). Namun, substansi teologisnya tetap sama. Tradisi ini sejajar dengan konsep transmisi hadis dalam Islam, di mana jalur periwayatan (misalnya, melalui Abu Hurairah atau Aisyah) menjamin keabsahan teks.
Perbedaan antara tradisi Yahudi (Yehuda) dan Samaria berasal dari perpecahan politik pada masa Imam Eli, di mana suku-suku utara (keturunan Yusuf) memisahkan diri dari suku Yehuda dan Benyamin di selatan. Meski demikian, keduanya tetap mengakui Torah sebagai hukum ilahi, mirip dengan pengakuan umat Islam terhadap Al-Qur’an sebagai wahyu final.
6. Pentingnya Teks Asli
Memahami teks asli dalam bahasa Ibrani dan Arab sangat penting untuk menghindari distorsi makna. Misalnya:
- Istilah Mesiah (Ibrani) atau Al-Masih (Arab) merujuk pada “yang diurapi” atau “pemimpin yang dipilih Tuhan.” Dalam tradisi Yahudi, Mesiah diterjemahkan sebagai Mekah (pemimpin komunitas), bukan sekadar nama tempat. Terjemahan yang keliru, seperti mengaitkan Mesiah dengan konotasi lain, dapat memicu kesalahpahaman.
- Dalam Talmud dan Mishnah, pengaruh bahasa Yunani dan Persia terlihat pada istilah seperti Sanhedrin (dari Yunani synedrion, dewan pengadilan). Namun, makna substansialnya tetap berakar pada tradisi Semit.
Seorang rabi yang menguasai Mishnah harus memahami bahasa Ibrani, Aram, Yunani, dan Persia untuk menangkap nuansa teks. Demikian pula, pemahaman Al-Qur’an memerlukan penguasaan bahasa Arab klasik dan dialek-dialeknya.
7. Relevansi untuk Dialog Lintas Agama
Kajian ini menunjukkan bahwa Torah dan Al-Qur’an memiliki banyak kesejajaran, baik dalam bahasa, struktur, maupun teologi. Kesamaan ini dapat menjadi dasar untuk dialog lintas agama yang harmonis, khususnya antara umat Yahudi dan Islam. Dengan memahami teks asli dan konteks historis, kita dapat menghindari kesalahpahaman yang sering muncul akibat terjemahan atau interpretasi yang bias.
Sebagai contoh, tuduhan bahwa Al-Qur’an “meniru” Torah atau sebaliknya dapat ditepis dengan memahami bahwa keduanya berasal dari akar Semit yang sama dan menyampaikan pesan monoteisme yang konsisten. Dalam konteks Indonesia, dialog ini relevan untuk memperkuat toleransi antarumat beragama.
8. Penutup
Kesejajaran antara Torah dan Al-Qur’an mencakup aspek linguistik (akar kata, gaya pengulangan, ortografi) dan teologis (konsep wahyu, monoteisme, hukum). Kajian ini menegaskan bahwa kedua kitab suci ini berbagi identitas Semit yang kuat, berbeda dengan Perjanjian Baru yang lebih dipengaruhi tradisi Helenistik. Dengan memahami teks asli, kita dapat menghargai kekayaan kedua tradisi dan membangun dialog yang lebih bermakna.
Kami mengajak pemirsa untuk terus mendukung misi Graha Mualaf, termasuk pembangunan Pondok Pesantren di Wonosalam, Jombang. Donasi dapat disalurkan ke rekening Bank Mandiri Syariah (kode bank: 451) nomor 11-88889-995 atas nama Yayasan Pembinaan Mualaf At-Tauhid, dengan bukti transfer dikirim ke 0812-3280-2080. Semoga kajian ini menjadi pencerahan dan amal kita diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadanallah Wwaiyyakum
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

