Aqidah

Siapa yang Dikorbankan oleh Nabi Ibrahim? Pendapat Ulama Arab Saudi vs. Indonesia

Wawancara Eksklusif:

Pembawa Acara (Pak Edi): Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang kembali di channel Graha Mualaf. Pada setiap malam Jumat, kita selalu mengadakan kajian mendalam. Hari ini, kita bersama Ustadz Main Hakim Ali. Assalamualaikum, Ustadz.

Ustadz Ali: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Pembawa Acara (Pak Edi): Ustadz, sebelum kita mulai, izinkan saya menyampaikan terima kasih atas nama Yayasan Pembina Mualaf At Tauhid atas bantuan sapi kurban. Alhamdulillah, kemarin kami menerima hampir 16 sapi dan 12 kambing yang tersebar di Papua, Manado, Gunung Kidul, Riau, dan Jawa Timur. Semoga amal Bapak/Ibu diterima Allah SWT. Nah, Ustadz, kita masih di bulan Idul Adha. Setiap tahun, ada perdebatan tentang siapa yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim: Ishak atau Ismail? Bahkan, baru-baru ini ada video dari Gus Baha yang menyebut ulama top di Arab Saudi cenderung ke Ishak, sementara ulama Indonesia lebih ke Ismail. Ini sering dimanfaatkan oleh kelompok non-Muslim untuk menjelekkan Islam, mengaitkannya dengan anak perjanjian, Ishak sebagai keturunan sah, dan Ismail dari budak. Bagaimana pendapat Ustadz soal ini? Apakah benar pendapat Gus Baha, dan apa dasarnya?

Ustadz Ali: Bismillah. Tema Idul Adha selalu dikaitkan dengan siapa putra Nabi Ibrahim yang dikorbankan: Ishak atau Ismail. Ini jadi perdebatan abadi antara Muslim, Kristen, Yahudi, dan Samaritan. Pertama, kita harus pahami filosofi Idul Adha: ini tentang korban cinta yang agung, bukan penebusan dosa seperti yang dikaitkan oleh Yahudi atau Nasrani. Dalam Islam, tak ada doktrin penebusan dosa melalui kurban.

Untuk menjawab, kita mulai dari Al-Quran. Kisah ini hanya ada di Surah As-Saffat ayat 100-102. Ayat 100: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” Ayat 101: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar (ghulam halim).” Di sini, nama tak disebut secara literal. Tapi dalam terjemahan Indonesia, ada catatan kaki: itu Ismail. Saudara Kristen sering kritik, “Quran tak sebut nama, tapi Bible sebut Ishak di Kejadian 22.” Benar, Bible sebut Ishak, tapi konteks Quran jelas Ismail. Kenapa? Karena ayat selanjutnya hubungannya dengan Ismail.

Sekarang, bandingkan dengan Bible. Di Kejadian 21:8-9, Sarah melihat anak Hagar (Ismail) bermain dengan Ishak. Teks asli Ibrani (Taurat Yahudi dan Samaritan) tak sebut nama Ishak, hanya “bermain.” Terjemahan Indonesia tambah “dengan Ishak” untuk konteks, sama seperti Quran tambah “Ismail” di catatan. Jadi, tak ada masalah.

Pembawa Acara (Pak Edi): Menarik, Ustadz. Jadi, pendapat Gus Baha bahwa ulama Arab Saudi condong ke Ishak, tapi Indonesia ke Ismail—apakah itu akurat? Dan kenapa perdebatan ini kuat di Arab Saudi tapi mainstream Indonesia ke Ismail?

Ustadz Ali: Gus Baha punya dasar, tapi mari kita telusuri dokumen tertua. Taurat sekarang (Masoretik, abad 9 M) sebut Ishak di Kejadian 22:2: “Ambillah anakmu yang tunggal, yang kaukasihi, yaitu Ishak.” Tapi manuskrip lebih tua, seperti Dead Sea Scrolls (abad 3 SM), tak sebut nama sama sekali—tak Ishak, tak Ismail. Nama Ishak muncul belakangan, setelah Islam ada.

Di tafsir Al-Quran awal, ada dua pendapat. Tafsir Muqatil bin Sulaiman (wafat 150 H) sebut Ishak. Tapi tafsir sezaman, Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H), sebut Ismail dengan sanad (rantai periwayatan) dari Mujahid. Jadi, generasi awal sudah ada dua: Ishak dan Ismail. Bukan seperti yang sering dikatakan Kristen bahwa tafsir awal semua Ishak—itu kecurangan akademik. Yang Ismail punya sanad lebih kuat.

Perdebatan ulama: Di Arab Saudi, pendapat Ishak mungkin lebih kuat karena pengaruh dokumen Yahudi/Kristen lama. Tapi di Indonesia, tradisi sendiri: hampir semua ulama bilang Ismail, karena konteks Quran dan hadis. Kenapa ikut Ismail? Karena di Taurat/Injil pun, konteks awalnya tak sebut nama, dan Ismail sebagai sulung. Di Quran (Surah Ibrahim), Ismail disebut dulu sebelum Ishak, beda dengan Bible yang letakkan Ishak dulu (1 Tawarikh 1:28).

Pembawa Acara (Pak Edi): Bagaimana dengan lokasi penyembelihan? Ini sering jadi senjata kritik.

Ustadz Ali: Inilah uniknya. Dalam Islam, siapa pun (Ishak atau Ismail), lokasinya sama: Mina, dekat Mekah. Semua ulama sepakat, tak ada kurban di Syam atau Palestina. Ini kaitannya dengan kiblat Mekah.

Beda dengan Taurat: Semua sebut Ishak, tapi lokasi beda. Versi Yahudi: Tanah Moriah (selatan Palestina, dekat Yerusalem). Versi Samaritan: Tanah Moreh (utara, dekat Nablus/Sikhem, seperti Kejadian 12:6). Ini pecah karena politik: Yahudi sakralkan Yerusalem, Samaritan sakralkan Nablus. Konsekuensi teologis: kiblat mana yang benar?

Ini politik nasab: Yahudi/Samaritan (keturunan Ishak via Yakub) unggulkan Ishak sebagai sulung. Bible letakkan Ishak dulu, Quran Ismail dulu—karena Ismail sulung sebenarnya.

Pembawa Acara (Pak Edi): Ada detail menarik di Bible: Ishak tak tahu dia akan dikorbankan (Kejadian 22:7-10), dia tanya “Mana dombanya?” Abraham rahasiakan. Beda dengan Quran?

Ustadz Ali: Ya, di Quran (As-Saffat 102), anak (Ismail) tahu dan rela: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Ada komunikasi. Menarik, tafsir Yahudi awal (Midrash) sebut Abraham bawa dua bujang: Ismail dan Eliezer. Ismail tahu Ishak akan dikorbankan, dan bilang ke Eliezer: “Nanti aku jadi pewaris sulung.” Jadi, Ismail tahu ada kurban, meski narasi Bible rahasiakan dari Ishak. Ini tunjukkan inkonsistensi.

Kesimpulan: Tak mungkin keduanya dikorbankan. Historis, pasti satu. Fokus bukan nama, tapi lokasi dan makna: korban cinta agung. Di Islam, lokasi tetap Mekah, tak pecah seperti Yahudi/Samaritan.

Pembawa Acara (Pak Edi): Terima kasih, Ustadz. Ini kajian ilmiah, bukan kontroversi. Kita hormati Gus Baha dan ulama lain. Sekali lagi, terima kasih atas donasi untuk pondok pesantren di Jombang. Rekening BSI 111889971 atas nama YPM At Tauhid Jawa Timur. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Ali: Waalaikumsalam. Semoga bermanfaat. Pikir kritis dari dokumen, bukan taken for granted.

Silahkan bagikan di :