Sejarah

Sejarah Pra-Islam: Penguasaan Kaum Qahtan atas Hijaz dan Awal Masuknya Berhala ke Ka’bah

Oleh: Ustaz Menahem Ali (Berdasarkan Kajian Filologi Biblikal)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Dalam kajian filologi biblikal yang sedang kita dalami, kita sering menemukan fakta-fakta historis yang belum banyak disentuh oleh peneliti lain. Malam ini, kita melanjutkan pembahasan tentang perkembangan keturunan Nabi Ismail AS di wilayah Hijaz (Mekkah dan Madinah) pada era pra-Islam. Kajian ini bukanlah ilmu nasab ala pesantren, melainkan pendekatan filologi yang mengandalkan dokumen-dokumen otentik: sezaman, internal (Islam), dan eksternal (Yahudi, Romawi/Yunani). Tujuannya adalah memahami Islam berdasarkan bukti historis, bukan sekadar doktrin.

 Asal Usul Kaum Qahtan (Yoktan) dalam Kitab Kejadian

Dasar pembahasan kita adalah Kitab Kejadian (Genesis) Pasal 10, yang merinci silsilah keturunan Nuh AS melalui Sem (Shem). Ever (Eber), keturunan Sem, memiliki dua anak: Peleg dan Yoktan. Dari Peleg lahirlah garis keturunan Nabi Ibrahim AS, Ishak AS, dan Ismail AS. Sementara itu, Yoktan (dalam bahasa Arab: Qahtan) memiliki 13 anak, yang menjadi leluhur suku-suku Arab Selatan (Yaman).

Dalam teks Ibrani asli (dari Taurat Moshe, edisi 1840 M, dan manuskrip Laut Mati abad ke-3 SM), ayat-ayat terkait berbunyi:

Kejadian 10:25-30 (Teks Ibrani Transliterasi):

– וּלְעֵבֶר יֻלַּד שְׁנֵי בָנִים שֵׁם הָאֶחָד פֶּלֶג כִּי בְיָמָיו נִפְלְגָה הָאָרֶץ וְשֵׁם אָחִיו יָקְטָן׃ 

  (Ule’Ever yullad shnei vanim shem ha’echad Peleg ki veyamav niflegah ha’aretz veshem achiv Yoqtan.)

– וְיָקְטָן יָלַד אֶת־אַלְמוֹדָד וְאֶת־שֶׁלֶף וְאֶת־חַצַרְמָוֶת וְאֶת־יָרַח׃ וְאֶת־הֲדוֹרָם וְאֶת־אוּזָל וְאֶת־דִּקְלָה׃ 

  (Vayoqtan yalad et-Almodad ve’et-Shelef ve’et-Chazarmavet ve’et-Yarach. Ve’et-Hadoram ve’et-Uzal ve’et-Diqlah.)

Terjemahan ke Bahasa Indonesia (berdasarkan terjemahan standar Alkitab): 

“Kepada Ever lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi, dan nama adiknya ialah Yoktan. Yoktan memperanakkan Almodad, Selef, Hazarmawet, Yerah, Hadoram, Uzal, Dikla, Obal, Abimael, Syeba, Ofir, Hawila dan Yobab; itulah semuanya anak-anak Yoktan. Daerah kediaman mereka terbentang dari Mesya ke arah Sefar, yaitu pegunungan di sebelah timur.”

Kata kunci: 

– Hazarmawet (חַצַרְמָוֶת) = Hadramaut (kawasan Yaman selatan). 

– Hadoram (הֲדוֹרָם) = Jurhum (suku Arab Yaman, dalam dialek Sabean). 

Menurut Rabbi Saadia Gaon (882-942 M / 269-331 H), seorang mujtahid Yahudi sezaman dengan Hisham bin Muhammad al-Kalbi (penulis Kitab al-Asnam), Yoktan disebut وَقَحْطَان (Waqahtan) dalam terjemahan Arab Taurat. Hazarmawet menjadi حَضْرَمَوْت (Hadramaut), dan Hadoram tetap هَدُورَام (Haduram), tapi setara dengan Jurhum. Wilayah kekuasaan mereka: dari Mekkah hingga Madinah hingga pegunungan timur.

 Bukti Geografis dari Peta Claudius Ptolemaeus (Abad ke-2 M)

Claudius Ptolemaeus (100-170 M), ahli geografi Imperium Romawi/Bizantium, membuat peta Semenanjung Arabia yang selaras dengan deskripsi di atas. Pada peta itu: 

– Macoraba = Mekkah. 

– Iathrippa (Yathrippa) = Yathrib (Madinah). 

– Katanite = Kahtan (suku besar Qahtan). 

– Katramonitai = Hadramaut. 

– Suku-suku keturunan Ismail: Asadeni (Bani Asad), Ioli Site (Bani Ilyas), dll., tersebar di Hijaz dan Najd. 

Peta ini membuktikan bahwa suku Qahtan merangsek utara, menguasai wilayah asli keturunan Ismail secara geografis, meski bukan biologis. Jarak waktu: dari abad ke-2 M hingga abad ke-10 M (900 tahun), narasi tetap konsisten—suhrah wa al-istifadah (sangat masyhur dan terdokumentasi).

 Komentar Yahudi: Mekkah sebagai Pusat Haji Keturunan Ismail

Dalam Taurat Hayim (edisi Yerusalem) dan komentar Rashi (Radak), Mesya (מֵשָׁא) diidentifikasi sebagai Makkah: 

“Zikrun Makkah… tempat pelaksanaan syariat kaum Ismailim, perayaan Haji (Lehoq Syam).” 

Artinya: Mekkah adalah warisan Ibrahim AS bagi Ismail AS, tempat ibadah haji Hanif (monoteisme murni) jauh sebelum Islam. Ini selaras dengan Al-Qur’an:

QS. Al-Baqarah: 125-127 (Arab dan Terjemahan Indonesia):

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ 

“Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) sebagai tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan sujud.'”

إِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 

“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal kami). Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'”

Ka’bah awalnya suci, pusat haji tauhid keturunan Ismail.

 Awal Masuknya Berhala: Pengaruh Kaum Jurhum (Qahtan)

Ibadah haji Hanif keturunan Ismail kemudian tercemar. Menurut Kitab al-Asnam karya Hisham bin Muhammad al-Kalbi (w. 204 H / 819 M, cetakan asli pra-304 H), pelopor penyembahan berhala adalah Amru bin Luhay al-Khuza’i dari Bani Jurhum (setara Hadoram/Qahtan). Ia memperkenalkan berhala dari luar, mengganti tauhid dengan paganisme. Berhala-berhala (seperti Hubal) dimasukkan ke Ka’bah, total mencapai 360 buah.

Ini menjawab tuduhan apologis anti-Islam: Ka’bah bukan awalnya pusat berhala, melainkan warisan tauhid Ibrahim-Ismail yang dirusak suku Qahtan. Berhala masuk ratusan tahun pra-Islam, turun-temurun hingga era Nabi Muhammad SAW membersihkannya.

QS. Al-Hajj: 26-27:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ 

“Dan (ingatlah) ketika Kami menetapkan bagi Ibrahim tempat Baitullah (dengan berfirman), ‘Janganlah kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun, dan sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang berdiri, yang rukuk dan sujud.'”

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ 

“Dan serukanlah kepada manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

 Kesimpulan: Sejarah Berulang, Pelajaran untuk Kita

Hijaz awalnya dikuasai keturunan Ismail (Hanif), kemudian secara geografis direbut Qahtan (Yoktan). Ibadah suci tercemar berhala dari Jurhum, tapi dibersihkan Nabi SAW. Ini bukti Islam melanjutkan tauhid asli, bukan agama baru. Dokumen Yahudi (Rabbi Saadia Gaon), Romawi (Ptolemaeus), dan Islam (al-Kalbi) saling menguatkan.

Buku saya, Filologi Biblikal: Ismail dan Identitas Kearaban (Jilid 1, tersedia di Tokopedia), dan Jilid 2 (segera terbit) membahas ini lebih dalam. Mari pelajari sejarah dengan nalar, bukan doktrin. Jangan lupakan jas merah: “Jangan tinggalkan sejarah.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Silahkan bagikan di :